Rabu, 28 Desember 2011

Kekuatan Mantra Bagi Penari Sakral

Solo (ANTARA News) - Bermohon kepada Sang Widi, Tuhan Yang Maha Esa,  diharuskan bagi para penari untuk memperoleh "kekuatan", utamanya sebelum naik panggung atau pentas, kata Direktur Agama Hindu Kementerian Agama, Ketut Lancar.

Dengan berdoa dan membaca mantra kepada Sang Widi, ada setangkup harapan untuk memperoleh kekuatan bagi penari, khususnya ketika membawakan tarian sakral, katanya di Surakarta, Jumat.

Pada Festival Seni Sakral Hindu pertama, 15-17 Juni 2010, di Surakarta, aroma dupa dan hio sangat menyengat hidung. Tatkala para penari hendak mentas, di belakang layar, pemandangan penari berdoa secara khusuk agar diberi kekuatan oleh Tuhan.

Coba ada lihat, setiap penari ketika mentas, mereka punya kekuatan, karena para penari meyakini bahwa Sang Widi, Tuhan Yang Maha Esa akan memberi apa yang dimintanya, ucap Ketut Lancar.

"Dengan cara itu, penari ketika tampil ada "tassunya", berupa kekuatan," ia menjelaskan.

Bisa dibedakan tampilan seorang penari yang tak melakukan ritual, membaca mantra dengan tampil seadanya.

"Penari berdoa sebelum mentas, akan terlihat punya "power", daya pikat," ia menambahkan.

Festival seni sakral Hindu dimeriahkan oleh 10 kontingen. Tiap kontingen beranggotakan 50 orang, meliputi warga dan seniman Hindu. Mereka berasal dari Bali, Jakarta, Makassar, Palembang , Lombok, dan daerah lain.

Seni sakral merupakan sebuah kesenian yang dipersembahkan kepada Tuhan. 
"Ada beberapa seni sakral yang dilombakan," kata salah seorang panitia, I Nyoman Sukerna.

Jenis kesenian yang dilombakan meliputi tabuh atau gamelan, gegitaan atau tembang, Tari Rejang serta Tari Sidakarya. Kegiatan tersebut berlangsung sejak 15 Juni hingga 17 Juni 2010.

Esensi dari kegiatan ini merupakan ajang mencari jatidiri bangsa yang belakangan ini makin ditinggalkan generasi mendatang, kata Ketut Lancar.

Ketut Lancar menambahkan, setiap penari punya mantra dan doa masing-masing. Esensinya tetap sama, memohon kepada Tuhan agar diberi kekuatan.

"Hal inilah yang membedakan tarian sakral dengan tarian yang biasa untuk pementasan umum," katanya.

Tarian Sakral, kata Ketut Lancar, punya daya pikat yang kuat dan tak mustahil ketika penari tampil membuat para penonton takjub.

Umumnya peralatan musik yang digunakan untuk tarian sakral, hampir sama dengan tarian biasa, meliputi: gong, kendang, cengceng, suling, ubal dengan pengematnya, terampong, garongan, reong, selunding, kenjur didukung sinden.

Umumnya tarian sakral mengandung media edukasi, ada unsur pendidikan di dalamnya. Lewat media seni inilah, selain hiburan juga ada pesan moral disampaikan, ia mengatakan.

Menurut Ketut Lancar, lewat jenis kesenian inilah pesan kepada insan atau umat disampaikan agar berperilaku yang baik dalam kehidupan berbangsa dan negara.

Tarian sakral yang biasa digunakan untuk upacara keagamaan antara lain meliputi tari rajang Dewa, baris gede, topeng side karye.

Pencerahan Spiritual, “Japa Mantra“

Tempat untuk berjapa
Persiapan Melakukan Japa
Mantra Dalam Japa

Na tu mam sakyase drastum anenai’wa swacaksusa, Diwyam dadami te caksuh pasya me yogam aiswaram. Artinya: Tetapi engkau tak mungkin dapat melihat Aku dengan matamu sendiri ini, ini Aku berikan engkau mata suci, saksikanlah kekuatan-kekuata Ku sebagai Dewata (Bh.XI.8)

WEDA sebagai kitab suci merupakan pedoman hidup bagi setiap umat Hindu untuk mewujudkan kehidupan Moksartham jagadhitaya ca iti dharma. Sebagaimana halnya seorang pilot pesawat udara, maupun nahkoda kapal laut, menjadikan sebuah kompas sebagai pedoman untuk menentukan arah tujuan ke suatu tempat dengan aman dan selamat. Sebaliknya apabila pedoman tadi diabaikan, dapat dipastikan manusia akan kehilangan arah dan tujuan. Sesuatu yang baik dan benar dilaksanakan dengan sadar dan sungguh-sungguh akan berpahala kebahagiaan, dan apabila tidak dilaksanakan akan berpahala penderitaan.

Hindu mengajarkan banyak cara dan jalan untuk mewujudkan kebahagiaan dalam hidup. Salah satu cara dan jalan tersebut adalah dengan mengucapkan Japa Mantra. Menurut Agni Purana sebagaimana dikutif oleh Sadguru Sant Keshavadas memberikan batasan pengertian Japa yaitu berasal dari suku kata “ja” artinya menghancurkan kelahiran dan kematian dan suku kata “pa “artinya menghancurkan semua dosa. Jadi japa adalah menghancurkan semua dosa dan meniadakan lingkaran kelahiran kematian serta membebaskan jiwa dari keterikatan duniawi. Japa juga berarti pengulangan mantra yang bersifat pikiran/mental.

Mantra merupakan unsur terpenting dalam agama Hindu, karena setiap ada upacara keagamaan maupun sembahyang pasti akan terdengar mantra. Mengapa mantra merupakan unsur terpenting dalam agama Hindu? Jawabannya, karena mantra tersebut sangat diyakini mengandung kekuatan suci dan gaib. Konsep spiritual, mantra berasal dari kata “man “ dan “yantra “, yang artinya alat untuk melindungi pikiran. Pengucapan mantra bertujuan untuk melindungi pikiran dari berbagai macam godaan. Pikiran yang terlindungi dari kegiatan-kegiatan negatif akan dapat selalu diarahkan untuk memikirkan hal-hal yang bermanfaat dan senantiasa berjalan pada dharma, sehingga seseorang dengan cepat mendapatkan pencerahan spiritual.

Pengertian mantra yang tidak kalah pentingnya adalah sebagai jampi yang kalau diucapkan dengan tekanan yang benar akan memberikan hasil untuk realisasi rohani atau keinginan keduniawian untuk kesejahteraan maupun kehancuran seseorang, tergantung dari motif untuk apa mantra itu diucapkan. Jadi Japa Mantra adalah pengulangan nama –nama Tuhan atau aksara-aksara Suci.

Ada dua cara pengucapan japa yaitu dengan wacika / oral dan manacika pikiran/mental. Di dalam wacika terdapat dua macam, yang pertama Waikhari, dimana mantra-mantra diulang dengan gerakan bibir dan mengeluarkan suara, kedua Upamsu, mantra diulang-ulang dengan gerakan bibir tetapi tanpa mengeluarkan suara. Japa secara manasika adalah mantra diulang-ulang yang bersifat pikiran (japa mental). Dari berbagai methode pengulangan mantra, japa mental inilah yang dianggap paling mulia. Manu bersabda : “ Wacika sepuluh kali lebih bermanfaat dari kurban-ritualistik. Upamsu-japa adalah seratus kali lebih baik dan japa mental adalah seribu kali pahalanya.

Untuk pemula, japa mental (manasika) memang sulit. Untuk menghancurkan kemalasan (guna tamas), seseorang harus mengikuti wacika japa, membersihkan nafsu ( guna rajas), seseorang harus melatih Upamsu. Dia yang pikirannya telah damai atau dipenuhi guna sattwam melakukan manasika japa. Tentu saja seseorang yang telah mencapai kesempurnaan bisa saja mempergunakan yang mana saja, tetapi bagi yang baru mulai, sebaiknya disiplin di atas ini diikuti dengan tetap melihat desa kala dan patra ( tempat, waktu dan keadaan)

Untuk mendapatkan manfaat yang lebih tinggi dari japa mantra, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dipersiapkan seperti faktor lingkungan, cara penggunaan japa-mala (tasbih), mantra yang digunakan untuk japa. Beberapa persyaratan ini diperlukan dan harus diperhatikan, mengingat yang diucapkan adalah mantra-mantra suci weda agar seseorang cepat memasuki tahap meditasi.

Jumat, 23 Desember 2011

Spiritual Meditation and New Age – a Strategy to Explain its Advantages

Kontemplasi terhadap hal-hal rohani adalah meditasi rohani. Meditasi adalah suatu filsafat spiritual bukan agama. Meditasi spiritual menerima semua agama dan percaya tanpa miring. Keinginan dalam pikiran adalah asal penderitaan individu. Keinginan dalam pikiran dikendalikan oleh meditasi rohani pada tujuan atau filsafat dari setiap iman dicintai. Meditasi adalah filosofi spiritual dari Timur dan masih berlaku selama tiga ribu tahun. Kontemplasi terus-menerus dan mendalam atau refleksi pada subjek atau objek dari meditasi adalah meditasi zaman baru.
Kontemplasi terus-menerus dan mendalam pada ajaran Buddhisme, filsafat dan kehidupan hidup dengan perilaku yang baik adalah meditasi Buddhis. Sebuah teknik meditasi berasal dari tradisi Hindu yang mempromosikan relaksasi yang mendalam melalui penggunaan mantra Hindu di Hindu disebut meditasi. Kontemplasi terus-menerus dan mendalam pada filosofi kekristenan adalah Christen meditasi. Meskipun secara teknis dengan hisap dari objek pemikiran adalah meditasi rohani. Setiap teknik untuk memperbaiki perhatian pada suatu subjek atau objek adalah meditasi zaman baru
Meditasi adalah perhatian intens dan terpadu atau kontemplasi dari suatu obyek atau ide yang menciptakan rasa kesadaran. Meditasi Teknik pada nama atau logo tuan atau dewa adalah umum untuk membebaskan diri dari keterikatan pikiran dan wajah saja. Meditasi adalah pemahaman spiritual dari diri sendiri. Ini tingkat yang lebih dalam relaksasi spiritual adalah kesadaran murni.
Apakah Anda menjalani gaya hidup atau spiritualitas, meditasi era baru tentu layak untuk mendapatkan perhatian Anda. Jika Anda tidak pernah terlalu memikirkan gagasan meditasi rohani, secara umum, pertimbangkan sekarang sebagai meditasi New Age. Efek dari usia baru meditasi berdiri disetujui oleh banyak sekolah meditasi. Meskipun usia meditasi baru bukanlah metode pengobatan yang telah disetujui oleh otoritas medis-hukum, telah terbukti secara klinis memiliki efek positif pada tubuh manusia dan pikiran.
Jadi apa Meditasi New Age? Kontemplasi terus-menerus dan mendalam pada bagian tubuh yang terkena penyakit ini Meditasi New Age. Dengan demikian, kekuatan tersembunyi dari kesadaran Anda menjadi dipanggil untuk menyembuhkan itu. Kontemplasi terus-menerus dan mendalam pada keinginan Anda untuk hal-hal dari dunia ini juga Meditasi New Age. Dengan demikian, kekuatan tersembunyi dari kesadaran Anda menjadi dipanggil untuk mencapai tujuan Anda di dunia. Meditasi New Age adalah campuran dari filsafat Timur dan tradisi dicampur dengan budaya Barat dan ide dari mewah. Meditasi era baru mengarah ke tingkat yang lebih dalam relaksasi fisik. Meditasi era baru mengurangi serangan kecemasan dengan menurunkan kadar laktat darah. Meditasi era baru mengurangi ketegangan otot. Meditasi zaman baru menenangkan sistem saraf kita.
Di sisi lain, Meditasi Spiritual membangun kepercayaan diri. Meditasi membantu mengendalikan pikiran keyakinan. Meditasi spiritual membantu dengan perhatian dan konsentrasi. Meditasi rohani membersihkan karakter Anda. Meditasi spiritual memberikan ketenangan jiwa dan kebahagiaan. Meditasi spiritual membantu Anda menemukan tujuan Anda. Mencapai pencerahan dengan teknik apapun meditasi rohani.

Suara Adalah Kekuatan

Dalam konsep Hindu mantra seperti suara mistis dibawa ke kesimpulan logis pada "benih" (bahasa Sansekerta Bija) mantra yang tidak memiliki makna yang tepat pada permukaan mereka tetapi ari tegas percaya bahwa suara Mantra bisa mengangkat orang percaya terhadap diri yang lebih tinggi . Unsur-unsur bunyi bahasa Sansekerta adalah entitas permanen dan signifikansi kekal. Dalam pembacaan mantra Sansekerta suara sangat penting, karena dapat membawa transformasi dalam diri Anda saat memimpin Anda untuk kekuasaan dan kekuatan.
Suara yang berbeda memiliki efek yang berbeda pada jiwa manusia. Jika suara lembut desiran angin melalui daun menenangkan saraf kita, catatan musik dari aliran menjalankan enchants hati kita, guruh dapat menyebabkan kekaguman dan ketakutan.
Ucapan-ucapan suci atau nyanyian bahasa Sansekerta Mantra memberikan kita kekuatan untuk mencapai tujuan kita dan mengangkat diri kita dari biasa ke tingkat kesadaran yang lebih tinggi. Mereka memberi kita kekuatan untuk menyembuhkan penyakit; menangkal kejahatan; mendapatkan kekayaan dan keberuntungan; memperoleh kekuatan supranatural; menyembah dewa untuk persekutuan ditinggikan dan untuk mencapai negara bahagia dan mencapai pembebasan.
Asal MantraMantra yang berasal Veda. Ajaran Veda terdiri dari berbagai nyanyian mantra atau himne dipikirkan oleh pelihat berbeda atau Resi dari Pikiran Kosmis. Karena Veda adalah impersonal dan kekal, tanggal historis yang tepat tentang asal-usul Mantra nyanyian sulit untuk tiba di. Misalnya, setiap Mantra dalam Weda, Upanishad dan tradisi keagamaan (sampradayas) dalam agama Hindu mulai dengan Om atau Aum - suara primordial, suara yang dikatakan memiliki asal-usulnya pada saat penciptaan alam semesta - juga disebut sebagai 'Big Bang'.
Om: Awal & AkhirAlkitab (Yohanes 1:1) mengatakan: "Pada mulanya adalah Firman dan Firman itu bersama Allah dan Firman itu adalah Allah." Veda filsuf modern telah menafsirkan ini ajaran Alkitab, dan Om disamakan dengan Allah. Om adalah yang paling penting dari semua mantra. Semua mantra umumnya mulai dan sering juga akhirnya dengan Om.
Penyembuhan dengan MantropathyNyanyian dari Om di Transendental Meditasi kini telah menerima pengakuan luas. Mantra dapat digunakan untuk mengobati ketegangan dan banyak penyakit sulit lainnya yang belum datang. Para Brahmvarchas Shodh Sansthan, pusat penelitian untuk integrasi ilmu dan spiritualitas di Shantikunj, Haridwar, India, satu-satunya tempat yang saya tahu melakukan percobaan ekstensif pada 'mantra sakti'. Hasil percobaan ini digunakan untuk bersaksi bahwa Mantropathy ilmiah dapat digunakan untuk penyembuhan dan pembersihan lingkungan.
Selama 21 tahun terakhir siaran agama saya Veda, beberapa pendengar mengatakan kepada saya bagaimana mereka mendapat manfaat fisik dan rohani dari melantunkan mantra Maha-Mrtyunjay selama 15 menit setiap pagi.
Bagaimana ChantAda banyak sekolah pemikiran pada metode nyanyian. Mantra Sebuah meneriakkan benar atau salah, sadar atau tidak sadar, hati-hati atau sembarangan, pasti untuk menanggung hasil yang diinginkan untuk fisik dan mental kesejahteraan. Hal ini juga diyakini oleh banyak orang bahwa kemuliaan dari Mantra nyanyian tidak dapat dibentuk melalui penalaran dan intelek. Hal ini dapat dialami atau menyadari hanya melalui pengulangan pengabdian, iman dan konstan Mantra.
Menurut sebagian ulama, mengucapkan Mantra Mantra adalah Yoga. Mantra sederhana namun kuat, Om atau Aum selaras kekuatan fisik dengan kekuatan emosional dengan kekuatan intelektual. Ketika ini terjadi, Anda mulai merasa seperti sedang lengkap - mental dan fisik. Tetapi proses ini sangat lambat dan membutuhkan banyak kesabaran dan iman putus-putusnya.
Para Guru-MantraMenurut pendapat saya penyembuhan melalui nyanyian dapat dipercepat jika mantra diterima dari seorang guru. Seorang guru menambahkan potensi ilahi untuk mantra. Hal ini menjadi lebih efektif dan dengan demikian membantu pelantun dalam bukunya / penyembuhan nya lebih cepat.
Pengalaman Pribadi SayaSekarang, izinkan saya memberikan pendapat bersama saya didasarkan pada lebih dari dua dekade meneriakkan "Om Namah Ganapatayae GAM", mantra yang diberikan oleh Guru saya. Ia memiliki dihindari dari segala kejahatan dan memberkati saya dengan kelimpahan, kebijaksanaan dan keberhasilan dalam setiap jalan kehidupan. Selain itu, ketika saya meneriakkan Manta ini sebelum memulai perjalanan, pekerjaan baru, atau sebelum masuk ke dalam setiap kontrak baru atau bisnis, semua halangan telah dihapus dan usaha saya dimahkotai dengan kesuksesan. Kredit dari semua kesuksesan saya duniawi dan spiritual pergi ke Guru Mantra-saya 'Sadhana' - iman lengkap dan kepatuhan dalam mantra yang diberikan oleh Guru saya.
Jauhkan Iman!Hal ini penting untuk memiliki iman yang sempurna di pembacaan mantra. Hal ini terutama melalui iman - dibantu oleh kemauan yang kuat - bahwa satu mencapai suatu tujuan. Sebuah tubuh yang sehat dan pikiran tenang sangat penting untuk pelantun dari mantra. Setelah Anda bebas dari semua kekhawatiran dan telah mencapai stabilitas di pikiran dan tubuh, Anda akan memperoleh manfaat maksimal melalui pembacaan mantra. Anda harus memiliki objek tertentu dalam pandangan dan kemauan yang kuat untuk mendapatkan tujuan yang diinginkan, dan kemudian langsung yang akan untuk mencapai goal.e pemikiran untuk membawa hubungan mereka dalam suara untuk berbagai prinsip-prinsip spiritual dan arus. Misalnya, pemujaan Dewi Ibu Kali, dalam bentuk mantra, yang terkenal dikurangi menjadi mantra Bija kuat dari tradisi Hindu Shakta: Aum Krim Krim Krim Hoom Hum: Krim Krim Krim Hum Hum Hrim Hrim Swaha Tentu saja, yang paling dihormati dari semua mantra Bija adalah Om / Aum. Bija mantra adalah bagian dari pemahaman monistik Hindu bahwa sementara realitas memanifestasikan dirinya sebagai banyak / beberapa, akhirnya satu.

Penelitian Lain Tentang Doa

Menurut penelitian yang dilakukan di Universitas Michigan, depresi dan stres teramati pada orang-orang yang taat beragama dengan tingkat rendah. Dan, menurut penemuan di Universitas Rush di Chicago, tingkat kematian dini di kalangan orang-orang yang beribadah dan berdoa secara teratur adalah sekitar 25% lebih rendah dibandingkan pada mereka yang tidak memiliki keyakinan agama. Penelitian lain yang dilakukan terhadap 750 orang, yang menjalani pemeriksaan angiocardiography [jantung dan pembuluh darah], membuktikan secara ilmiah kekuatan penyembuhan dari doa. Telah diakui bahwa tingkat kematian di kalangan pasien penyakit jantung yang berdoa menurun 30% dalam satu tahun pasca operasi yang mereka jalani.

Herbert Benson dan William Proctor dalam Beyond the Relaxation Response (1984) berkeyakinan bahwa doa yang penuh kekuatan iman akan dapat memberikan kesembuhan. Hal itu secara empirik terbukti dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Randolph Byrd, seorang kardiolog dan mantan profesor Universitas California terhadap 393 pasien di Rumah Sakit Umum San Fransisco yang dibagi secara acak dan dikelompokkan pada tempat yang berbeda. Setiap pasien didoakan oleh lima puluh tujuh orang. Hasilnya sungguh sangat menakjubkan. Pasien yang didoakan menunjukkan keadaan yang jauh lebih baik daripada mereka yang tidak didoakan. Mereka hanya membutuhkan 20% antibiotik daripada kelompok yang tidak didoakan yang kemungkinan terkena pulmonary edema ‘paru-paru basah’ 30% lebih kecil. Pembuktian ilmiah tentang kekuatan doa ini, diteruskan dengan penelitian terhadap tumbuh-tumbuhan. Benih gandum yang dibagi dalam dua kelompok, yaitu benih yang didoakan dan yang tidak. Hasilnya ternyata benih yang didoakan tumbuh dengan cabang-cabangnya yang kuat dan lebih banyak dibandingkan dengan benih yang tidak didoakan.

Sebuah publikasi penelitian tentang kanker yang dilakukan oleh para peneliti dari National Institutes of Health, USA yang dipimpin oleh Dr. Richad Childs, menyatakan bahwa penyakit kanker yang berat seperti kanker darah, kanker ginjal dan kanker getah bening biasanya sangat resisten dan tidak mempan terhadap berbagai pengobatan seperti chemotherapy maupun radio therapy. Namun, sel-sel kanker ganas ini rupanya justru sangat rentan (susceptible) dan takluk terhadap sistem kekebalan tubuh melalui sistem imunitas penderita dan di antara cara peningkatan sistem kekebalan tubuh adalah sebagaimana temuan seorang dokter lulusan Universitas Airlangga Surabaya yaitu melalui Doa.

Menurut Norman Vincent Peale dalam The Power of Positive Thinking bahwa dewasa ini orang cenderung sering berdoa dibandingkan sebelumnya, karena mereka semakin merasakan bahwa doa dapat menambah efisiensi pribadi dan doa membantu mereka menyadap kekuatan dan memanfaatkan kekuatan yang tersedia. Doa sebagaimana kesimpulan pakar psikologi merupakan kekuatan terbesar yang tersedia bagi seseorang dalam memecahkan masalah pribadinya. Kekuatan doa adalah manifestasi dari energi seperti halnya ada teknik ilmiah untuk pelepasan energi atom, maka ada prosedur ilmiah untuk pelepasan energi spiritual melalui mekanisme doa. Kekuatan doa tampaknya bahkan mampu menormalkan proses penuaan, meniadakan atau membatasi kelemahan dan kemunduran.
 
Sumber : klik disini

DOA

Doa adalah ungkapan perasaan seseorang yang pada umumya di tujukan kepada Tuhan baik yang diucapkan maupun hanya dalam hati. Doa yang diucapkan maupun tidak diucapkan semua dibenarkan dalam Hindu. Hal ini tergantung pada situasi dan kondisi. Pujalah Tuhan dalam hati itu terdapat dalam Regveda : 8.44.15. Sesuai dengan Hukum Getaran bahwa setiap benda adalah bergetar maka doa yang diucapkan dalam hati akan menggetarkan microkosmos / alam kecil kita. Sedangkan doa yang diucapkan secara keras dan berulang-ulang maka akan menggetarkan makrocosmos / alam besar beserta benda-benda dan mahluk hidup yang ada disekitarnya.

Doa yang tertinggi adalah doa yang disertai dengan niat. Misalnya kita lagi berdoa di pura namun pikiran melayang-layang entah kemana akan sulit hal itu disebut berdoa. Kualitas doa tidak diukur seberapa banyak ia bisa menghapal ayat-ayat suci namun melainkan ketulusan dan niat yang suci dalam memujanya jauh lebih penting dari segalanya. Jika kulitas doa hanya diukur bagi yang hanya bisa membaca mantra, maka hanya doa para pemuka agama saja yang akan dikabulkan.

Tidaklah mengada-ada jika saya membuat tulisan seperti ini, sebagai perbandingan di tempat saya. Di tempat saya banyak para pemangku hanya sekedar menghapal saja mantra-mantra yang diujarkan dalam ritual-ritual tanpa mengerti artinya. Kalau pemangkunya saja tak paham, lalu bagaimana dengan yang lainnya? Saya memisahkan pemahaman mantra ini dan sudut bhakti, sebab kalau masalah bhakti para pemangku ini tak diragukan lagi. Bahwa bhakti seorang pemangku ditujukan untuk semua umat. Dan saya menganggap seorang pemuka agamalah yang memang benar-benar mengajegkan Hindu dan Bali pada Khususnya.

Seperti halnya murid-murid di sekolah hapal betul mantra Tri Sandya namun hanya sedikit yang mengerti arti dari mantra tersebut.
Ada tujuh syarat yang harus dipenuhi agar suatu yadnya dapat dikategorikan “satwika yadnya” yaitu: sradha, lascarya, sastra, daksina, mantra, gita, annasewa dan nasmita. Dari tujuh syarat itu, mantralah yang merupakan unsur yang termasuk penting. Mengapa demikian? Tidak lain karena mantra diyakini memiliki kekuatan suci. Tentu jika diucapkan dengan aturan yang tepat.

Sangat banyak sekali Makna dari mantra itu sendiri. Ada beberapa makna yang bisa saya uraikan di bawah ini :
• Mantra adalah satu kata atau kumpulan kata yang memiliki kekuatan dan yang didengar oleh para Rsi.
• Mantra adalah kata yang membawa seseorang yang dengan tulus mengucapkannya, menyebrangi lautan kelahiran kembali.
• Mantra adalah rumus akultis untuk mengusir dan berbagai gangguan atau jalan untuk memenuhi keinginan duniawi, tergantung dan motif untuk apa mantra itu diucapkan.
• Mantra adalah jampi yang kalau diucapkan dengan tekanan yang benar akan memberikan hasil melalui kekuatan alam, tergantung apa yang dipuja.
• Mantra adalah kekuatan kata yang bisa dipakai untuk realisasi rohani atau keinginan keduniawian; dia bisa dipakai untuk kesejahteraan dan juga bisa dipakai untuk kehancuran. Dia memiliki keluatan seperti tenaga atom. Dia adalah satu kekuatan yang bertindak sesuai dengan kasih sayang seseorang yang mempergunakannya.
Dari banyak definisi itu, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa mantra bisa “bertuah” jika diucapkan sesuai aturan dan sangat mungkin akan menimbulkan bencana jika diucapkan tidak sesuai aturannya. Terutama mantra yang bersifat rahasia atau istilahnya “pingit” maka penggunaanya tidaklah sembarangan. Harus orang-orang yang benar-benar memiliki syarat tertentu untuk mengucapkannya. Jika salah pengucapan pada mantra-mantra yang bersifat “pingit” maka akan mengakibatkan hal yang buruk.

Sebuah contoh adalah ketika adik kandung Rahwana yang bernama Kumbakarna memohon anugrah kepada Dewa Brahma agar dikaruniai kesenangan selalu (suka sada) tetapi karena lidahnya salah ucap menjadi supta sada) maka Dewa Brahma menganugrahinya sebagai mahluk yang selalu tidur karena “supta sada” artinya selalu tidur. Ini adalah contoh kecil saja.

Namun tidak usah merasa takut akan kesalahan pengucapan untuk mantra-mantra yang masih bersifat umum. Jika ketakutan itu terjadi maka akan sedikit yang berani untuk memimpin doa dalam persembahyangan. 
 
sumber : klik disini

The Hindu Bija Mantra

Dalam konsep Hindu mantra seperti suara mistis dibawa ke kesimpulan logis pada "benih" (bahasa Sansekerta Bija) mantra yang tidak memiliki makna yang tepat pada permukaan mereka tetapi diperkirakan untuk membawa hubungan mereka dalam suara untuk berbagai prinsip-prinsip spiritual dan arus. Misalnya, pemujaan Dewi Ibu Kali, dalam bentuk mantra, yang terkenal dikurangi menjadi mantra Bija kuat dari tradisi Hindu Shakta: Aum Krim Krim Krim Hoom Hum: Krim Krim Krim Hum Hum Hrim Hrim Swaha Tentu saja, yang paling dihormati dari semua mantra Bija adalah Om / Aum. Bija mantra adalah bagian dari pemahaman monistik Hindu bahwa sementara realitas memanifestasikan dirinya sebagai banyak / beberapa, akhirnya satu.