Kamis, 03 November 2011

Shiva Mool Mantra

Mantra Mool Tuhan Siwa dikenal sebagai mantra penebusan besar juga dikenal sebagai lima suku kata mantra. Shiva adalah realitas tertinggi, Diri batin. Ini adalah nama yang diberikan kepada kesadaran yang berdiam dalam semua. Siwa adalah nama identitas-diri sejati Anda Anda. Dalam mantra ini pelantun (orang yang mengulangi mantra) busur untuk Shiva-nya diri sejati.

Rabu, 02 November 2011

Pemujaan Siwa

Agama Hindu berkembang menjadi banyak sekte. Ini disebabkan karena Weda tidak diwahyukan kepada seorang Maha-Rsi saja, dan juga tidak diwahyukan dalam kurun waktu yang sama dan diwahyukan pula di tempat yang berbeda.
Ada tujuh Maha Rsi yang menerima wahyu Weda, yaitu:
  1. Maha-Rsi Grtsamada
  2. Maha-Rsi Wiswamitra
  3. Maha-Rsi Wamadewa
  4. Maha-Rsi Atri
  5. Maha-Rsi Bharadwaja
  6. Maha-Rsi Wasistha
  7. Maha-Rsi Kanwa
Weda diwahyukan sekitar 1.150 sampai 1.000 tahun Sebelum Masehi, di tujuh lembah sungai-sungai suci di India, yaitu: Gangga, Sindhu, Saraswaty, Yamuna, Godawari, Narmada, dan Sarayu.
Ketujuh Maha-Rsi itu menafsirkan wahyu-wahyu yang diterima, kemudian mendirikan perguruan-perguruan serta mempunyai murid atau pengikut masing-masing. Inilah bentuk awal dari adanya sekte-sekte Agama Hindu.
Salah satu sekte yang mempunyai pengikut terbesar dan berkedudukan di Madya Pradesh (India tengah) adalah Sekte Siwa-Siddhanta yang kemudian disebarkan oleh Rsi Agastya, antara lain ke Indonesia.
Sekte inilah yang pada tahun 760 Masehi mulai berkembang di Jawa Timur di suatu tempat bernama Kanjuruhan (kini bernama Dinoyo, Malang). Ketika itu Raja Kanjuruhan bernama Dewa Simha.
Penganut Hindu dari sekte Siwa Siddhanta meyakini Tuhan adalah Siwa. Salah satu bentuk pemujaan Siwa yang dilakukan oleh pada Pendeta Siwa adalah dengan mengucapkan mantra yang disebut sebagai Mantra Catur Dasa Siwa, yakni empat belas wujud Siwa.
Mantra ini digunakan untuk mendapat pengaruh ke-Tuhan-an yang kuat dan suci serta untuk mendapat kebahagian sekala-niskala.
Mantra itu sebagai berikut:
  1. Om Ang Prasada Kala Siwaya namah
  2. Om Ang Stiti Kala Siwaya namah
  3. Om Ang Kala-kutha Siwaya namah
  4. Om Ang Maha-suksma Siwaya namah
  5. Om Ang Suksma Siwaya namah
  6. Om Ang Anta-kala Siwaya namah
  7. Om Ang Adhi-kala Siwaya namah
  8. Om Ang Parama Siwaya namah
  9. Om Ang Ati–suksma Siwaya namah
  10. Om Ang Suksma-tara Siwaya namah
  11. Om Ang Suksma-tama Siwaya namah
  12. Om Ang Sada Siwaya namah
  13. Om Ang Parama Siwaya namah
  14. Om Ang Sunia Siwaya namah
Pendeta Siwa yang mengucapkan dan meresapkan Mantra Catur Dasa Siwa ingin mendudukkan Siwa dalam tubuh/ dirinya mulai dari bagian bawah tubuh sampai ke bagian atas tubuh, yakni:
  1. Mantra nomor 1 untuk kaki kanan
  2. Mantra nomor 2 untuk kaki kiri
  3. Mantra nomor 3 untuk perut
  4. Mantra nomor 4 untuk pusar
  5. Mantra nomor 5 untuk hati
  6. Mantra nomor 6 untuk tangan kanan
  7. Mantra nomor 7 untuk tangan kiri
  8. Mantra nomor 8 untuk mata kanan
  9. Mantra nomor 9 untuk mata kiri
  10. Mantra nomor 10 untuk telinga kanan
  11. Mantra nomor 11 untuk telinga kiri
  12. Mantra nomor 12 untuk sela-sela alis
  13. Mantra nomor 13 untuk ujung hidung
  14. Mantra nomor 14 untuk ubun-ubun

2 comments to Pemujaan Siwa

1
Agama Hindu berkembang menjadi banyak sekte. Ini disebabkan karena Weda tidak diwahyukan kepada seorang Maha-Rsi saja, dan juga tidak diwahyukan dalam kurun waktu yang sama dan diwahyukan pula di tempat yang berbeda.
Ada tujuh Maha Rsi yang menerima wahyu Weda, yaitu:
  1. Maha-Rsi Grtsamada
  2. Maha-Rsi Wiswamitra
  3. Maha-Rsi Wamadewa
  4. Maha-Rsi Atri
  5. Maha-Rsi Bharadwaja
  6. Maha-Rsi Wasistha
  7. Maha-Rsi Kanwa
Weda diwahyukan sekitar 1.150 sampai 1.000 tahun Sebelum Masehi, di tujuh lembah sungai-sungai suci di India, yaitu: Gangga, Sindhu, Saraswaty, Yamuna, Godawari, Narmada, dan Sarayu.
Ketujuh Maha-Rsi itu menafsirkan wahyu-wahyu yang diterima, kemudian mendirikan perguruan-perguruan serta mempunyai murid atau pengikut masing-masing. Inilah bentuk awal dari adanya sekte-sekte Agama Hindu.
Salah satu sekte yang mempunyai pengikut terbesar dan berkedudukan di Madya Pradesh (India tengah) adalah Sekte Siwa-Siddhanta yang kemudian disebarkan oleh Rsi Agastya, antara lain ke Indonesia.
Sekte inilah yang pada tahun 760 Masehi mulai berkembang di Jawa Timur di suatu tempat bernama Kanjuruhan (kini bernama Dinoyo, Malang). Ketika itu Raja Kanjuruhan bernama Dewa Simha.
Penganut Hindu dari sekte Siwa Siddhanta meyakini Tuhan adalah Siwa. Salah satu bentuk pemujaan Siwa yang dilakukan oleh pada Pendeta Siwa adalah dengan mengucapkan mantra yang disebut sebagai Mantra Catur Dasa Siwa, yakni empat belas wujud Siwa.
Mantra ini digunakan untuk mendapat pengaruh ke-Tuhan-an yang kuat dan suci serta untuk mendapat kebahagian sekala-niskala.
Mantra itu sebagai berikut:
  1. Om Ang Prasada Kala Siwaya namah
  2. Om Ang Stiti Kala Siwaya namah
  3. Om Ang Kala-kutha Siwaya namah
  4. Om Ang Maha-suksma Siwaya namah
  5. Om Ang Suksma Siwaya namah
  6. Om Ang Anta-kala Siwaya namah
  7. Om Ang Adhi-kala Siwaya namah
  8. Om Ang Parama Siwaya namah
  9. Om Ang Ati–suksma Siwaya namah
  10. Om Ang Suksma-tara Siwaya namah
  11. Om Ang Suksma-tama Siwaya namah
  12. Om Ang Sada Siwaya namah
  13. Om Ang Parama Siwaya namah
  14. Om Ang Sunia Siwaya namah
Pendeta Siwa yang mengucapkan dan meresapkan Mantra Catur Dasa Siwa ingin mendudukkan Siwa dalam tubuh/ dirinya mulai dari bagian bawah tubuh sampai ke bagian atas tubuh, yakni:
  1. Mantra nomor 1 untuk kaki kanan
  2. Mantra nomor 2 untuk kaki kiri
  3. Mantra nomor 3 untuk perut
  4. Mantra nomor 4 untuk pusar
  5. Mantra nomor 5 untuk hati
  6. Mantra nomor 6 untuk tangan kanan
  7. Mantra nomor 7 untuk tangan kiri
  8. Mantra nomor 8 untuk mata kanan
  9. Mantra nomor 9 untuk mata kiri
  10. Mantra nomor 10 untuk telinga kanan
  11. Mantra nomor 11 untuk telinga kiri
  12. Mantra nomor 12 untuk sela-sela alis
  13. Mantra nomor 13 untuk ujung hidung
  14. Mantra nomor 14 untuk ubun-ubun

BAGAIMANA CARA YANG TEPAT UNTUK MENGUCAPKAN MANTRA?

Sebagai awal, sebuah Mantra harus diberikan kepada seorang pemuja oleh seorang Guru bila manfaat yang besar ingin diperoleh dari Mantra ini. Tentu saja seseorang boleh mengambil Mantra apapun dan mulai mengucapkannya, dan selama orang tersebut memiliki keyakinan pada Mantra itu maka ia akan memperoleh beberapa hasil yang positif. Japa adalah tehnik terbaik yang dikenal dalam Mantra Yoga, dimana suatu Mantra diulang secara terus-menerus, mula-mula kedengaran oleh telinga manusia kemudian secara diam-diam dan secara mental. Ketika pemuja itu terus mengucapkan Mantra favoritnya, dia akan merasakan perobahan dalam kesadarannya. Tapi tidak perlu untuk melihat perobahan apapun dalam badan kasarnya. Ada beberapa jenis Mantra diantaranya Pranawa dan Gayatri Mantra adalah yang paling populer.

Persis seperti satu biji tumbuh menjadi satu jenis pohon tersendiri sesuai dengan jenis dari biji itu, demikian pula efek dari setiap Mantra.

Mantra yang diucapkan oleh penganut Hare Krishna adalah, "Hare Krishna, Hare Krishna, Krishna, Krisha, Hare, Hare; Hare Rama, Hare Rama, Rama, Rama, Hare, Hare." Mantra ini khususnya dipergunakan untuk membebaskan seseorang dari Karma atau ikatan (tumimbal lahir) menurut Srimad Mahabhagawatam. "OM Namah Shiwaha" adalah Mantra yang sangat populer di India Selatan. Mantra populer yang lain adalah, "Sree Ram, Jaya Ram, Jaya Jaya Ram; Sree Ram, Jaya Ram, Jaya Jaya Ram."

Ada banyak sekali Mantra dalam agama Hindu. Bahkan ada Mantra-mantra seperti Wasikarni Mantra untuk menarik lawan jenis. "Om Mani Padme Hum" adalah satu Mantra Buddhis yang agung, yang merujuk kepada "mutiara dalam bunga padma dari hati." Dalam agama Yahudi, "Baruch Attah Adoni" berarti "Terahmatilah Engkau, O Tuan Tuhan kami." Untuk orang Kristen, nama Jesus sendiri adalah sebuah mantra yang besar. Dalam tradisi Katolik, "Hail Mary" dipergunakan sebagai Mantra yang hebat. "Bismilah Ir-Rahman Ir-Rahim" adalah Mantra Muslim yang artinya "Dalam nama Allah, yang pengasih dan penyayang."

APAKAH MANTRA DAN KENAPA IA BEGITU PENTING?

"Mantra" menggabungkan dua akar kata - Man artinya berpikir dan Tra artinya "instrumentalitas." Singkatnya, Mantra berarti "bentuk pikiran" (thought-form). Sebuah Mantra adalah ucapan yang memiliki kekuatan magis. Kebanyakan dari Mantra-mantra penting berasal dari Tantra. Dalam agama Hindu, dewa-dewa diwakili oleh Mantra dan setiap dewa dihubungkan dengan satu Mantra khusus. Dikatakan bahwa kekuatan Mantra bisa mengundang dewa memasuki sebuah patung dan membuat patung itu menjadi "hidup." Semua Mantra Hindu dibentuk dari alphabet Sansekerta. Dipercayai bahwa setiap huruf memiliki potensi kekuatan yang tidak terbatas dan beberapa dari huruf itu secara tepat dikelompokkan menjadi satu Mantra.

Kemudian Mantra itu akan membantu untuk menciptakan efek khusus. Menurut kekuatannya, Mantra dikelompokkan kedalam jenis laki-laki, perempuan dan netral. Mantra yang berakhir dengan suku kata "Hum" atau "Phat" disebut Mantra maskulin (laki-laki), yang berakhir dengan "Swaha" disebut Mantra feminin (wanita), yang berakhir dengan "Namah" disebut Mantra netral. Ada lima puluh dua huruf dalam alphabet Sansekerta, jadi ada lima puluh dua elemen kekuatan yang tersedia untuk menciptakan Mantra dalam berbagai kombinasi yang berbeda. Tentu saja tidak seorangpun dapat mengatakan bahwa hanya suara-suara yang dihasilkan oleh alphabet Sansekerta yang bisa menjadi Mantra. Satu-satunya hal yang dikatakan disini adalah bahwa Mantra-mantra Hindu diciptakan oleh para ilmuwan kuno zaman Weda, para Mahareshi, dan evaluasi yang sangat mendalam dilakukan sebelum menerima gabungan kata sebagai Mantra. Dalam agama Hindu Mantra tidak terbatas jumlahnya.

Apakah Mantra Yoga itu?

Mantra Yoga berasal dari Weda-Weda dan Tantra. Yoga ini membawa perobahan dalam kesadaran material oleh perantaraan suara. Tentu saja, "suara" Mantra Yoga merujuk kepada suara misterius yang tidak dapat didengar oleh telinga manusia.

Dari pengetahuan modern kita tahu tiga fakta penting : 1. Materi adalah satu ekspresi dari energi, 2. Energi ini bergetar pada frekuensi yang berbeda dalam jenis materi yang berbeda. 3. Organ indriya kita hanya dapat menerima sensasi yang dibuat dalam lingkup frekuensi yang sangat terbatas. Misalnya, kita hanya dapat mendengar suara yang dibuat dalam satu cakupan (range) frekuensi terbatas - apapun di atas itu disebut ultrasound dan yang di bawahnya disebut infrasound. Tentu saja, kita tidak dapat menyimpulkan bahwa suara dalam Mantra Yoga termasuk dalam salah satu kategori di atas.

Kita dapat mengatakan bahwa Mantra Yoga itu didasarkan atas aspek getaran dari energi dan modifikasinya kedalam materi yang bervariasi. Mantra dipergunakan untuk menghasilkan hasil-hasil yang penting dan juga penyatuan dan pengungkapan dari kesadaran. Mantra Yoga sendiri bukanlah satu Yoga khusus; sebaliknya ia dipergunakan secara luas oleh para pemuja yang berasal dari semua aliran Yoga yang lain untuk peningkatan dan pengembangan kesadaran.

Pengantar Weda

A. ŚRUTI
Kelompok Śruti, menurut Bhagawan Manu merupakan Weda yang sebenarnya, atau Weda originair. Menurut sifat isinya Weda ini dibagi batas tiga bagian, yaitu :

a. Bagian Mantra.
b. Bagian Brahmana (Karma Kanda).
c. Bagian Upanisad/Aranyaka (Jńăna kanda).

Ad. a. Mantra.
Bagian Mantra terdiri atas empat himpunan (samhita) yang disebut catur Weda samhita, yaitu :
    • Rg. Weda atau Rg Wedasamhita.
    • Sama Weda atau Samawedasamhita.
    • Yajur Weda atau Yajurwedasamhita.
    • Atharwa Weda atau Atharwaweda samhita

Dari keempat kelompok Weda itu, tiga kelompok pertama sering disebut-sebut sebagai mantra yang berdiri sendiri. Karena itu disebut Tri Weda.

Pengenalan catur Weda hanya karena kenyataan Weda itu secara sistematik telah dikelompokkan atas empat Weda.
Pembagian empat kelompok ini itu yaitu :
  • Rg. Weda Samhita merupakan kumpulan mantra yang memuat ajaran-ajaran umum dalam bentuk pujaan (Rc. atau Rcas). Arc. = memuja (Arc. Rc).
  • Samawedasamhita merupakan kumpulan mantra yang memuat ajaran umum. mengenai lagu-lagu pujaan (saman).
  • Yajur Weda samhita merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran umum mengenai pokok-pokok yajus, (pluralnya Yajumsi). Jenis Weda ini ada dua macam, yaitu:
  • Yajurweda hitam (Krşņa Yajurweda) yang terdiri atas beberapa resensi a.l. Taiyiriya samhita dan Maitrayanisamhita.
  • Yajur weda putih (Śukla yajurweda). yang juga disebut Wajasaneji samhita.
    • Atharwa weda samhita merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran yang bersifat magis (atharwan).
Kitab Rg. Weda merupakan kumpulan dari sloka-sloka yang tertua. Kitab ini dikumpulkan dalam berbagai resensi seperti resensi Sakala, Baskala, Aswalayana, Sankhyayana dan Mandukeya. Dari lima macam resensi ini yang masih terpelihara adalah resensi Sakala sedangkan resensi-resensi lainnya banyak yang tidak sempurna lagi karena mantra-mantranya hilang. Didalam mempelajari ajaran-ajaran Hindu dewasa ini para sarjana umumnya berpedoman pada resensi Sakala untuk mengetahui seluruh ajaran yang terdapat didalam Rg. Weda itu. Berdasarkan resensi itu. Rg. WEDA samhita terdiri atas 1017 hymn (mantra) atau 1028 mantra termasuk bagian mantra Walakhitanya. Atau disebut pula terdiri atas 10580½ stanza at.au 153826 kata-kata atau 432000 suku kata.

Rg. Weda terbagi atas 10 Mandala yang tidak sama panjangnya. Disamping pembagian atau 10 Mandala, Rg. Weda dibagi pula atas 8 bagian yang disebut “Astaka” Mandala 2 -- 8 merupakan himpunan sloka-sloka dan keluarga-keluarga Maha Rsi tunggal sedangkan mandala 1, 9, 10 merupakan himpunan sloka-sloka dari banyak Maha Rsi.

Samaweda terdiri atas mantra-mantra yang berasal dari Rg. Weda. Menurut penelitian Samaweda terdiri atas 1810 Mantra atau kadang-kadang ada yang mengatakan 1875. Samaweda terbagi atas dua bagian yaitu bagian arcika terdiri atas mantra-mantra pujaan yang bersumber dari Rg. Weda dan bagian Uttararcika yaitu himpunan mantra-mantra yang bersifat tambahan. Kitab ini terdiri atas beberapa buku nyanyian pujaan (gana). Dan kitab-kitab yang ada, yang masih dapat kita jumpai a.l. Ranayaniya, Kautuma dan Jaiminiya (Talawakara). Walaupun demikian didalam usaha penulisan kembali kitab Samaweda itu telah diusahakan sedemikian rupa supaya tidak banyak yang hilang.

Yajurweda terdirii atas mantra-mantra yang sebagian besar berasal dari Rg. Weda, ditambah dengan beberapa mantra yang merupakan tambahan baru. Tambahan ini umumnya berbentuk prosa. Menurut Bhagawan Pataňjali, kitab ini terdiri atas 101 resensi yang sebagian besar sudah lenyap. Kita ini terbagi atas dua aliran, yaitu:
  • Yajurweda hitam (Krsna Yajurweda). Kitab ini terdiri atas 4 resensi yaitu:
  • Katakhassamhita.
  • Mapisthalakathasamhita.
  • Taithiriyasamhita (Terdiri atas dua aliran yaitu Apastamba dan Hiranyakesin).
    • Yajur Weda putih (śukla yajurweda, juga dikenal Wajasaneyi samhita). Kitab ini terdiri atas 2 resensi yaitu :
  • Kanwa dan
  • Madhyandina.
Antara kedua resensi itu hanya terdapat sedikit perbedaan Yajurweda putih ini terdiri atas 1975 mantra yang isinya umumnya menguraikan berbagai jenis yajna besar seperti Wejapeya, Aswamedha, Sarwamedha dan berbagai jenis yajna lainnya. Bagian terakhir dari Weda ini memuat sloka-sloka yang kemudian dijadikan Isopanisad.

Perbedaan pokok antara Yajurweda Putih dengan Yajurweda hitam hanya sedikit saja Yajurweda putih terdiri atas mantra-mantra dan doa-doa yang harus diucapkan pendeta didalam upacara sedangkan mantra-mantra didalam Yajurweda hitam terdapat pula mantra-mantra yang menguraikan arti Yajna. Bagian terakhir ini merupakan bagian tertua dari Yajurweda itu. Di dalam Weda ini kita jumpai pula pokok-pokok upacara Darsapurnamasa yaitu upacara yang harus dilakukan pada saat-saat bulan purnama dan bulan gelap, disamping berbagai jenis upacara-upacara besar yang penting artinya dilakukan setiap harinya.

Atharwaweda yang disebut Atharwangira, merupakan kumpulan mantra-mantra yang juga banyak berasal dari Rg. Weda. Kitab ini memiliki 5987 mantra (puisi dan prosa). Kitab ini terpelihara dalam dua resensi, yaitu:
  • Resensi Saunaka. Resensi ini paling terkenal dan terdiri atas 21 buku.
  • Resensi Paippalada.
Ad. b. Brahmana (Karma Kanda)
Bagian kedua yang terpenting dan kitab Sruti ini adalah bagian yang disebut Brahmana atau Karma Kanda. Himpunan buku-buku ini disebut Brahmana. Tiap-tiap mantra (Rg. Sama, Yajur, Atharwa) memiliki Brahmana. Brahmana berarti doa. Jadi kitab Brahmana adalah kitab yang berisi himpunan doa-doa yang dipergunakan upacara yajna. Kadang-kadang Brahmana diartikan penjelasan yang menjelaskan arti kata ucapan mantra.
Kitab Rg. Weda memiliki dua jenis buku Brahmana, yaitu Aitareya Brahmana dan Kausitaki Brahmana (Sankhyana Brahmana). Kitab Brahmana yang pertama terdiri atas 40 Bab dan yang kedua terdiri atas 30 Bab.

Kitab Samaweda memiliki kitab Tandya Brahmana yang juga sering dikenal dengan nama Pancawimsa. Kitab ini memuat legenda (ceritra-ceritra kuno) yang dikaitkan dengan upacara yajna. Disamping itu ada pula Sadwimsa Brahmana. Kitab ini terbagi atas 25 buku dimana bagian terakhir yang terkenal adalah kitab Adbhuta Brahmana, merupakan jenis Wedangga yang memuat mengenai ramalan-ramalan dan penjelasan mengenai berbagai mukjizat.

Yajurweda memiliki beberapa kitab Brahmana pula. Yajurweda hitam (Krsna Yajurweda) memiliki Taittiriya Brahmana. Kitab ini merupakan lanjutan Taittiriya samhita Kitab ini yang menguraikan simbolisasi ,,Purusamedha” yang telah diartikan secara salah didalam tradisi Yajurweda putih (Sukla Yajurweda) memiliki Saptatha Brahmana. Nama ini disebut demikian karena kitab ini terdiri atas 100 adhyaya. Bagian terakhir dari kitab ini merupakan sumber bagi kitab Brhadaranyaka upanisad. Didalam kitab Brabmana ini mula-mula kita jumpai ceritera Sakuntala, Pururawa, Urwasi dan ceritera-ceritera tentang ikan. Atharwa weda ini memiliki kitab Gopathabrabmana.

Ad. c. Upanisad dan Arapyaka (Jńăna kanda).
Aranyaka atau Upanisad adalah himpunan mantra-mantra yang membabas berbagai aspek teori mengenai ke-Tuhan-an. Himpunan ini merupakan bagian Jńăna Kanda dari pada Weda Śruti. Sebagaimana halnya dengan tiap-tiap Mantra memiliki kitab Brahmana, demikian pula tiap-tiap mantra ini memiliki kitab-kitab Aranyaka atau Upanisad. Kelompok kitab-kitab ini disebut Rahasiya Jñăna karena isinya membahas hal-hal yang bersifat rahasia.
Didalam penelitian mengenai berbagai naskah kitab suci Hindu Dr. G. Sriniwasa Murti didalam introduksi kitab Saiwa Upanisad mengemukakan bahwa tiap-tiap Sakha (cabang ilmu) Weda merupakan satu upanisad. Dari catatan yang ada:
  • Rg.Weda terdiri atas 2l sakha.
  • Sama Weda terdiri atas 1000 sakha.
  • Yajur Weda terdiri atas 109 Sakha, dan
  • AtharwaWedaterdlijatas5osakha.
Berdasarkan jumlah sakha yaitu 1180 sakha maka jumlah Upanisad sayogyanya ada sebanyak 1180 buah buku tetapi berdasarkan catatan Muktikopanisad jumlah upanisad yang disebut secara tegas adalah sebanyak 108 buah buku. Adapun perincian daripada kitab-kitab upanisad itu adalah sebagai berikut:
  • Upanisad yang tergolong jenis Rg. Weda, yaitu antara lain:
      Aitareya, Kausitaki, Nada-bindu, Atmaprabodha, Nirwana, Mudgala, Aksamalika,    Tripura, Saubhagya dan Bahwrca Upanisad, yang semuanya berjumlah sepuluh Upanisad.
  • Upanisad yang tergolong jenis Sama Weda adalah :
      Kena, Chandogya, Aruni, Maitrayani, Maitreyi, Wajrasucika, Yogacudamani, Wasudewa, Mahat, Sanyasa, Awyakta, Kondika, Sawirei, Rudraksajabala, Darsana dan Jabali. Semuanya berjumlah enam belas Upanisad.
  • Upanisad yang tergolong jenis Yajurweda, adalah :
    • Untuk jenis Yajur Weda Hitam, terdirj atas Kathawali, Taittiriyaka, Brahma, Kaiwalya, Swetaswatara, Garbha, Narayana, Amrtabindu, Asartanada, Katagnirudra, K ausika, Sarwasara, Sukharahasya, Tejobindu, Dhyanabindu, Brahmawidya, Yogatattwa, Daksinamurti, Skanda Sariraka, Yogasikha, Ekaksara, Aksi, Awadhuta, Katha, Rudrahrdaya, Yogakundalini, Pancabrahma, Pranagnihotra, Waraha, Kalisandarana dan Saraswatirahasya. sernuanya berjumlah tiga puluh dua Upanisad.
    • Untuk Jenis Yajur Putih, terdiri atas: Isawasya, Brhadaranyaka, Jabala, Hamsa, Paramahamsa, Subata, Mantrika, Niralambha. Trisikhibrahmana, Mandalabrahmana, Adwanyataraka, Pingala Bhiksu, Turiyatita, Adhyatma, Tarasara, Yajnawalkya, Satyayani dan Muktika, semuanya berjumlah sembilan belas Upanisad.
  • Upanisad yang tergolong jenis Atharwaweda, yaitu, antara lain: Prasna, Munduka, Mandukya, Athawasira, Atharwasikha, Brhajjabala, Nrsimhatapini, Naradapariwrajaka, Sita, Sarabha, Mahanarayana, Ramarahasya, Ramatapini, Sandilya,
    Paramahamsa pariwrajaka, Annapurna, Surya, Atma, Pasupata, Parabrahmana, Tripuratapini, Dewi, Bhawana, Brahma, Gamapati, Mahawakya, Gopalatapini, Krsna, Hayagriwa, Dattatreya dan Garuda Upanisad, semuanya berjumlah tiga puluh satu Upanisad.
Dengan memperhatikan deretan nama-nama kelompok Mantra, Brahmana dan Upanisad diatas, jelas bahwa kitab Sruti meliputi jumlah yang cukup banyak. Untuk mendalami Dharma, semua buku-buku itu adalah merupakan sumber utama dan kedudukannya mutlak perlu dihayati.

sumber :  klik disini