Jumat, 28 Oktober 2011

Melihat dan Mendengar yang Baik

Budha Wacana
Melihat dan Mendengar yang Baik
Oleh : I Gede Suwantana*
NusaBali – Rabu, 26 November 2008
Bhadram karnebhih srnuyaama devaa bhadram pasyemaaksabhir yajatraah
Sthirair angais tustuvamsas tanuubhir vyayema devahitam yad ayuh
(Rg.Veda 1.89.8 )
Ya Tuhan, semoga kami mampu mendengar apa yang baik dan Ilahi, semoga kami mampu melihat yang baik pula. Dan semoga dengan fisik yang sehat dan kuat mempersembahkan lagu kepada-Mu, kami menikmati hidup yang diberkati Tuhan.
SECARA intelek mantra di atas dapat dimengerti dengan mudah. Intelek kita seolah didukung oleh arti mantra tersebut, yakni mendengar dan melihat yang baik, juga menikmati hidup yang berkelimpahan atas rahmat-Nya. Namun kebaikan, kenikmatan atas apa yang kita dengar, kita lihat dan kita rasakan berakar dari keinginan. Intelek yang berakar pada keinginan akan mampu membedakan baik dan buruk secara ordinary saja dan sangat jauh dari pengertian mumuksutvam. Intelek yang berakar dari keinginan itu seperti pisau tumpul tidak mampu memotong secara tegas, sedangkan pikiran seorang mumuksu sangat tajam, hasil potongannya sangat jelas.
Intelek yang berakar pada keinginan hanya mampu membedakan sesuatu secara Iuarnya saja atas apa yang balk dan yang buruk, tetapi intelek seorang mumuksu mampu membedakan mana yang nyata dan yang tidak nyata. Intelek yang tumpul akan membedakan sesual seleranya sedangkan intelek yang tajam mampu membedakan berdasarkan eksistensinya.
Pikiran ordinary melihat mantra mi untuk memohon agar kita selalu melihat dan mendengar yang balk, yang enak, yang menyenangkan dan menolak mendengar dan melihat yang jelek, yang kurang sedap dan buruk. Pandangan ordinary menginginkan sesuatu yang balk itu menjadi lebih dan juga pada saat yang bersamaan ingin membuang sesuatu yang jelek dan tidak mengenakkan agar berkurang. Atas dasar inilah kits selalu memohon kepada Tuhan dengan mengucapkan mantra ini.
Tuhan menjamin bahwa siapapun memuja-Nya akan diselamatkan apapun yang menjadi miliknya dan diberikan apapun yang diinginkannya. Namun mengapa masih banyak orang menderita padahal mereka memuja Tuhan? Siapa yang salah? Apakah Tuhan tidak menepati janjinya, atau mantranya yang tidak manjur? Atau kita yang salah? Kita percaya bahwa Tuhan tidak pernah salah dan mantra yang kita ucapkan juga diwahyukan olehNya sehingga juga tidak pernah salah. Maka kesimpulannya kenapa masih ada penderitaan, itu karena kita yang keliru. Kita memberikan pengharapan dalam mantra itu dan ketika hasilnya tidak sesuai dengan harapan kita, maka penderitaan itu ada. Maka dari itu sepanjang kita memaknai mantra di atas berakar dari keinginan, maka sepanjang itu mantra di atas kehilangan
siddhinya.
Lalu apa yang kita lakukan? Kita harus mendekonstruksi makna itu di dalam diri kita.
“Semoga kita mendengar dan melihat yang baik” arti mantra di atas akan menjadi jelas apabila dilihat dari eksistensinya. Kita dapat melihat dan mendengar kebaikan yang eksis pada suatu apapun yang dapat dipersepsi. Kita mampu melihat kebenarannya dari dalam. Baik dan buruk yang kita dengar dan kita lihat bukan berakar dari nilai yang ada saat ini yang menghilangkan sisi kemanusiaannya, tetapi bagaimana mampu melihat dan mendengar sesuatu yang baik atau buruk muncul dari kebenaran dan menjadi nilai yang mesti diikuti.
Kita selalu mengikuti nilai yang kadang kita tidak mengerti apa nilai itu, kebenaran apa yang ada dalam nilai itu, tetapi kita dapat menggunakan nilai itu untuk men-judgment sesuatu mengenai baik dan buruknya. Dengan pola yang sama kepercayaan kita pada Tuhan juga demikian. Kita dapat mengatakan bahwa kita percaya pada Tuhan tetapi kita tidak menemukan kebenaran-Nya bagaimana kepercayaan itu bekerja pada diri kita, sehingga pujaan kita menjadi mentah dan tidak berarti. Ketika kebenaran dapat kita dengar dan lihat maka penderitaan akan berakhir. Dan mantra di atas akan memiliki makna yang signifikan.
*penulis, Direktur indra Udayana Vedanta Community.

sumber : klik disini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar