Selasa, 14 Februari 2012

Berbakti Kepada Orang Tua Adalah Suatu Kewajiban

PENDAHULUAN
Dalam kitab Taittiriya Upanisad disebutkan bahwa ayah dan ibu itu adalah ibarat perwujudan Deva dalam keluarga: “Pitri deva bhava, matri deva bhava”. Vana Parva 27,214 menyebutkan bahwa ayah dan ibu termasuk sebagai Guru, di samping Agni, Atman, dan Rsi.
Di Bali ayah dan ibu disebut sebagai Guru Rupaka di samping Hyang Widhi sebagai Guru Svadyaya, pemerintah sebagai Guru Visesa, dan para pengajar sebagai Guru Pengajian.
Ada lima hal yang menyebabkan anak-anak harus berbakti kepada ayah dan ibunya, yang dalam kekawin Nitisastra VIII.3 disebut sebagai Panca Vida, yaitu:
1. Sang Ametwaken, karena pertemuan (hubungan suami/ istri) ayah dan ibu maka lahirlah anak-anak dari kandungan ibu.
Perjalanan hidup ayah dan ibu sejak kecil hingga dewasa, kemudian menempuh kehidupan Gryahasta, sampai mengandung bayi dan selanjutnya melahirkan, dipenuhi dengan pengorbanan-pengorbanan.
2. Sang Nitya Maweh Bhinojana, ayah dan ibu selalu mengusahakan memberi makan kepada anak-anaknya.
Bahkan tidak jarang dalam keadaan kesulitan ekonomi, ayah dan ibu rela berkorban tidak makan, namun mendahulukan anak-anaknya mendapat makanan yang layak. Ibu memberi air susu kepada anaknya, cairan yang keluar dari tubuhnya sendiri.
3. Sang Mangu Padyaya, ayah dan ibu menjadi pendidik dan pengajar utama.
Sejak bayi anak-anak diajari menyuap nasi, merangkak, berdiri, berbicara, sampai menyekolahkan. Pendidikan dan pengajaran oleh ayah dan ibu merupakan dasar pengetahuan bagi kesejahteraan anak-anaknya di kemudian hari.
4. Sang Anyangaskara, ayah dan ibu melakukan upacara-upacara manusa yadnya bagi anak-anaknya dengan tujuan mensucikan atma dan stula sarira.
Upacara-upacara itu sejak bayi dalam kandungan sampai lahir, besar dan dewasa: Magedong-gedongan, Embas rare, Kepus udel, Tutug Kambuhan, Telu bulanan, Otonan, Menek kelih, Mepandes, Pawiwahan.
5. Sang Matulung Urip Rikalaning Baya, ayah dan ibulah pembela anak-anaknya bila menghadapi bahaya, menghindarkan serangan penyakit dan menyelamatkan nyawa anak-anaknya dari bahaya lainnya.
    PAHALA BAGI ANAK-ANAK YANG BERBHAKTI KEPADA ORANG TUA
    Dalam kitab suci Sarasamuscaya disebutkan ada empat pahala yang diterima oleh anak-anak yang berbakti kepada orang tua:
    1. Kirti.
    Selalu dipuji dan didoakan untuk mendapatkan kerahayuan oleh sanak keluarga dan orang-orang lain keluarga, karena dipandang terhormat.
    Puji dan doa yang positif seperti itu akan mendorong aktivitas dan gairah kehidupan sehingga anak-anak akan menjadi lebih meningkat kualitas kehidupannya.
    2. Ayusa. Berumur panjang dan sehat.
    Umur panjang dan sehat sangat diperlukan agar manusia dapat menempuh tahapan-tahapan kehidupannya dengan sempurnya, yaitu melalui Catur ashrama: Brahmacarya, gryahasta, wanaprastha, dan bhiksuka.
    Brahmacarya adalah masa menempuh pendidikan, gryahastha adalah masa berumah tangga dan mengembangkan keturunan, wanaprastha adalah masa menyiapkan diri menuju kehidupan yang lebih suci, dan bhiksuka adalah masa kehidupan yang suci, lepas dari ikatan-ikatan keduniawian.
    3. Bala.
    Mempunyai kekuatan yang tangguh dalam menempuh kehidupan baik ketangguhan yang berupa pemenuhan kebutuhan hidup, kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan, dan juga ketangguhan dalam arti menguatkan kesucian mental/ rohani.
    4. Yasa Pattinggal Rahayu.
    Kebaktian pada orang tua akan menjadi contoh bagi keturunan selanjutnya dan akan dilanjutkan, sehingga bila anak-anak sudah menjadi tua atau meninggal dunia, secara sambung menyambung para keturunannya-pun akan menghormati dan berbakti kepadanya, karena kebaktian itu sudah menjadi tradisi yang baik di dalam keluarganya.
      KESIMPULAN
      Hubungan antara suami dan istri sejak awal perkawinan merupakan dasar yang menentukan bagi kehidupan rumah tangga selanjutnya menuju kebahagian hubungan suami-istri-dan anak-anak.
      Sedangkan di dalam perkawinan, peranan istri-lah yang dominan dalam arti bahwa wanita merupakan kunci utama kebahagiaan rumah tangga.
      Sebagaimana disebutkan dalam Manawa Dharmasastra di atas, bahwa bilamana seorang istri merasa bahagia maka berbahagia pulalah rumah tangga itu. Anak-anak yang lahir dari perkawinan yang baik hendaklah sejak kecil dididik agar berbakti kepada orang tua.
      Orang tua melimpahkan kasih sayangnya kepada anak-anak dalam filosofi Agama Hindu adalah karena keyakinan bahwa roh yang menjelma menjadi anak-anak adalah roh leluhurnya sendiri.
      Oleh karena itu hubungan antara manusia dengan roh leluhur mempunyai jalinan yang kuat dalam kaitan kepercayaan Atma tattwa dengan kepercayaan Punarbhawa.
      Sebagaimana diuraikan di atas, kewajiban orang tua kepada anak-anak dimulai sejak jabang bayi masih dalam kandungan sampai anak-anak lahir menjadi besar dan menempuh kehidupan perkawinan.
      Kewajiban itu digolongkan sebagai kewajiban skala (nyata) dan kewajiban niskala (tidak nyata).
      Kewajiban skala adalah kewajiban memelihara secara fisik dan mental misalnya mencukupi kebutuhan sandang-pangan dan pendidikan.
      Kewajiban niskala adalah kewajiban menyelenggarakan upacara-upacara manusa yadnya mulai dari magedong-gedongan sampai pawiwahan.
      Setelah anak-anak mandiri dan berkeluarga maka berbaliklah kewjiban itu, bahwa anak-anak harus merawat dan memelihara orang tuanya sampai meninggal dunia, yaitu menjaga kesehatan, kegembiraan, dan kebahagiaan hidup, menyelenggarakan pitra yadnya dan mensucikan roh ayah-ibunya.
      Demikianlah kehidupan ini berputar terus secara timbal balik, sehingga dapatlah dikatakan bahwa filsafat Tattwamasi merupakan cahaya bagi kehidupan umat manusia di dunia.

      Tidak ada komentar:

      Poskan Komentar