Senin, 13 Februari 2012

Perbedaan Konsep Hindu Dalem Waturenggong dengan Hindu Putih Mayong

QUESTION:

Apakah ada perbedaan antara Hindu konsep Dalem Waturenggong dengan Hindu Putih Mayong, misalnya dalam upacara atau bebantenannya?
Saya liat setiap upacara, yg mimpin upacara/ muput, selalu sama orangnya/ 1 orang, dari upacara 3 bulanan, otonan, metatah, nganten, ngaben. Apakah boleh seperti itu atau apakah sudah sesuai dengan ajaran hindu?
Saya liat di desa saya/ orang tua saya (Tegeh Kori) tidak spt itu. Jero mangku sanggah/ merajan hanya di sanggah saja, tiga bulanan dari kahyangan tiga, metatah yg muput jero gede, dan seterusnya.
ANSWER:
Warga Putih Mayong dahulu kala memandang diri mereka sebagai kaum ‘pendatang’ di Bali, atau dengan kata lain bukan orang Bali asli. Maka mereka membawa tradisi-tradisi beragama Hindu dari Jawa Timur, khususnya dari Madura yang ketika itu masih beragamaHindu.
Banyak persamaan tradisi-tradisi itu yang kini bisa dilihat masih diadakan di Jawa Timur, mirip dengan tradisi yang dilakukan warga Putih Mayong di Buleleng.
Untuk keperluan Pendeta, karena di Bali tidak ada Pendeta Putih Mayong, maka mereka menggunakan tetua (Jero Mangku) untuk muput upacara-upacara, dengan memohon tirta di Sanggah Pamerajan, yaitu di palinggih ‘Siwa’.
Oleh karena itu warga Putih Mayong dikatakan ‘mesiwa raga’ artinya, menggunakan tirta dari usaha sendiri memohon kepada Bhatara Siwa. Untuk warga lain biasanya menggunakan tirta yang dimohonkan oleh Pendeta.
Namun demikian, karena sudah berabad-abad hidup bercampur dengan masyarakat Bali, maka perbedaan-perbedaan tradisi beragama Hindu semakin kurang, dan sekarang banyak sekali warga Putih Mayong sudah menggunakan Pendeta Hindu seperti warga yang lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar