Rabu, 04 Januari 2012

Agama adalah identitas dari keyakinan manusia. Itulah kesan pertama tentang agama berkenaan dengan keberadaan istilah agama Kristen, Islam, Hindu, Buda, Kong Hu Cu dan lain-lain. Karena berhubungan dengan keyakinan, dipercaya benar, maka perlu dibahas apakah mendasar atau tidak. Andai mendasar, bagaimanakah menelaah dasar kepercayaan tersebut?

Pembahasan demikian menjadi sangat mutlak karena keyakinan tanpa dilandasi kepercayaan terhadap dasar kebenaran sama dengan tahayul. Dongeng yang hanya efektif untuk menakut-nakuti manusia sesaat lalu akan lenyap ditelan masa. Bahkan hal itu dapat menyebabkan terjadinya suatu tragedi kemanusiaan. Sebagai contoh adalah bunuh diri masal yang berkembang dalam Sekte Hari Kiamat pada catur wulan terakhir 2003.

Untuk menelaah apakah hanya tahayul atau realita kebenaran maka perlu dikaji hakekat keberadaan agama.

Secara historis kata agama muncul dari nama pustaka-pustaka Hindu. Kitab-kitab yang berkembang mulai jaman Veda.

Agama secara etimologi berasal dari akar kata Sanskrit ‘a’ berarti tidak dan ‘gam’ berarti berubah. Yang tidak berubah berkeberadaan abadi. Satu-satunya yang berkeberadaan abadi adalah “Tuhan”, baca Tuhan dalam tanda petik. Dengan demikian, Agama adalah Tuhan. Sehingga, kitab-kitab agama merupakan nama kitab-kitab pengetahuan ketuhanan, brahmavido, yang dimaksudkan membahas ketuhanan dan yang berhubungan dengan Tuhan (Mundaka Upanisad I.1.4-5).

Berkenaan dengan bahasan ketuhanan, agama sebagai brahmavido adalah telaah vidya atau pengetahuan berkebenaran terhadap tattwa atau unsur-unsur dan objek kebenaran berupa fakta maupun realita seperti dijelaskan dalam Brahmasutra I.1.3.

sastrayonitvat

yaitu agama dalam bentuk sastra atau alat kebenaran menjadi sumber atau inti pengetahuan yang benar. Bukankah fakta maupun realita merupakan wujud-wujud kebenaran?
Sebagai penelaah kebenaran agama seolah-olah cenderung filosofis dengan mengedepankan aspek logika, etika dan estetika dalam menggali realita. Namun, agama melalui tattwa tidak percis sama dengan filsafat.

Tattwa agama tidak hanya berkenaan dengan proses spekulatif yang berhubungan dengan kemampuan menalar dalam kaidah-kaidah berpikir. Tattwa lebih dari itu karena melibatkan aktivitas pengamatan atas segala tingkat kesadaran seperti diungkapkan Kena Upanisad II.4:

pratibodha viditam matam amrtatvam hi vindate.

Tattwa, dari akar kata Sanskrit tat = itu; tu = namun hanya; serta kata a yang berfungsi untuk menegaskan atau kata aw = memelihara, adalah objektivitas kebenaran. Objektivitas yang dihasilkan melalui dua proses memperoleh kebenaran berdasarkan tingkatan kesadaran terhadap realita, yaitu pratiba dan pramana.

Pratiba adalah visi kebenaran langsung atau drishya dan hanya dimiliki oleh individu-individu yang telah mencapai tingkatan kesadaran batin tertentu seperti para Maharsi atau para penerima wahyu yang telah mencapai tahap samapatti atau pengamat murni.

Pada tahap ini alam pikiran yang terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang sebagai indera utama beserta segala indera lain sebagai alat pengamat atau grahitr, proses pengamatannya atau grahana, dan objek yang diamati atau grahya menjadi objektif. Hal ini dijelaskan oleh Maharsi Patanjali melalui Yogasutra I.41. yaitu:

ksine wrtter abhijatasyewa maner grahitr grahana grahyesu tat stha ta danjanata samapattih.

Pada tahap samapatti batasan dan keterbatasan pikiran dan semua indera lenyap. Kesadaran jati diri atau atma muncul sebagai pengamat murni. Sang pengamat yang mempunyai kemampuan visi terhadap kebenaran berdimensi tak hingga.

Secara faktual hukumnya adalah ‘realita kebenaran berdimensi tak hingga hanya bisa diamati sempurna melalui jati diri yang mempunyai kesadaran visi berdimensi tak hingga pula’. Tanpa ini mustahil mendapatkan kebenaran mutlak secara objektif selain hanya kebenaran relatif. Kebenaran yang diperoleh melalui pembatasan-pembatasan oleh indera yang serba terbatas.

Sebagai bukti dari keterbatasan indera adalah mata sebagai indera pelihat paling banter mampu mengamati suatu objek dalam matra atau dimensi empat, tiga matra ruang ditambah satu matra waktu. Itupun bagi objek kasat mata, alias tak renik, atas bantuan keberadaan cahaya tampak.

Contoh lain dari keterbatasan indera adalah telinga sebagai pendengar hanya mampu menangkap suara dengan range gelombang audio berfrekwensi tertentu. Suatu kemampuan yang jauh tertinggal dibandingkan kemampuan pendengaran seekor anjing sebagai misal.

Berdasarkan kemampuan pratiba, realita beserta perlakuan terhadap realita yang muncul, baik berupa shruti atau wahyu terdengar maupun drishti atau realita kebenaran teramati, sebagai kebenaran diterjemahkan tanpa perlu penafsiran yang bersifat subjektif (Rg Veda Pratama Mandala).

Disisi lain, pramana sebagai cara memperoleh kebenaran yang umum dipakai dalam wilayah intelegensia manusia disamping mengandung penalaran juga melibatkan pengamatan.

Pramana lebih umum dikenal sebagai tri pramana merupakan trinitas dalam menggali dan mendapatkan kebenaran. Agama pramana sepadan dengan penalaran deduktif. Anumana pramana secara mendasar sama dengan penalaran induktif. Pratyaksa pramana adalah aktivitas pengamatan atau penelitian.

Ketiga bagian pramana bersifat integral dan tidak bisa diparsialkan karena pramana merupakan landasan mendapatkan kebenaran dalam bentuk hukum atau dharma (wrhaspati tatwa 26, uraian sedikit rinci bisa dibaca dalam IGMA Sanjaya, 2002).

Syarat faktual dari kebenaran hasil pramana adalah keberadaan likita sebagai dasar teori, bukti sebagai data pendukung, dan saksi sebagai wujud aktivitas penelitian. Tanpa ketiga alat pendukung tersebut kesimpulan terhadap kebenaran dinyatakan tidak syah (Manawa Dharmasastra). Sampai disini agama bukanlah tahayul, melainkan landasan filososfis dari awal pemunculan ilmu pengetahuan atau pengetahuan ilmiah.

Bahasan agama atau brahmavido dalam arti luas meliputi dua hal, eksistensi sakala dan niskala.
Sakala berasal dari keberadaan desa atau ruang dan kala atau waktu. Eksistensi sakala tentu saja berhubungan dengan fungsi ruang-waktu. Dalam kepentingan agama fungsi ruang-waktu diperluas dengan tambahan patra atau pola-pola keberadaan sehingga menjadi desa-kala-patra (Bhagavadgita XVII.20). Lalu apa saja terkait dengannya? Memang benar, semesta dan segala isi semesta!

Hakekat kebergantungan pada pola-pola keberadaan-ruang-waktu adalah maya atau ketidak kekalan karena selalu mengalami perubahan akibat ditopang oleh dua macam daya yaitu viksepa sebagi daya untuk mengembang dan avarana sebagai daya untuk berubah (Siva Samhita I.79).

Alam beserta isi semesta karenanya mengembang dan terikat oleh perubahan. Inilah penyebab mengapa alam semesta menurut adwaita Wedanta disebut sebagai ‘maya pada’ atau ‘maya loka’ karena pada atau dasar dari loka atau alam adalah perubahan. Dan, memang benar menurut Yoga Sutra IV.14 perubahan adalah dasar realita,

parinama ika tvad vastu tattvam.

Bukankah realita yang selalu terjadi di dunia adalah perubahan?

Pengetahuan berkebenaran yang membahas hal-hal bersifat sakala dan bersifat keduniawian dikelompokkan sebagai pengetahuan tingkat rendah. Dalam istilah agama pengetahuan tersebut dikenal sebagai aparavidya (Mundaka Upanisad I.1.4-5). Suatu kelompok pengetahuan, menurut Adwaita Wedanta yang dikembangkan Sankara, yang meletakkan ilusi pada tingkat paling rendah kemudian pengetahuan empirik sebagai pengetahuan ilmiah dan metafisik pada tahap tertinggi.

Niskala berasal dari kata nir + sakala berarti bebas dari sakala. Eksisitensi Niskala tentu membahas yang bukan menjadi fungsi pola-pola keberadaan-ruang-waktu. Suatu bahasan tentang Yang Berkeberadaan Abadi atau aksara-adhigama (Mundaka Upanisad I.1.4-5), yaitu Brahman atau hakekat dari Tuhan.

Pembahasan lebih spesifik tentang hal ini diperoleh melalui pengetahuan agung yang disebut paravidya. Suatu pengetahuan pada tingkat lebih tinggi yang meletakkan Brahmavidya (Gandharva Tantra bab 42), secara kasar walau tidak tepat benar diterjemahkan sebagai pengetahuan tentang Tuhan, sebagai inti bahasan.

Pemerolehan Brahmavidya tidak bersifat tahayul karena mempunyai landasan proses jelas. Proses tersebut diterangkan dalam yoga, sebagai contoh referensi adalah Yoga Vasistha dan Patanjala Yoga Dharsana, landasan teoritis tentang proses menghubungkan diri dengan Tuhan.
Brahmavidya didapatkan dengan penajaman pramana melalui proses samyama yang melibatkan perenungan mendalam dan penyadaran dalam dhyana sampai mencapai samadhi.

Kegiatan di atas dimaksudkan untuk memunculkan kesadaran terhadap kebenaran agama dan anumana pramana kemudian saksikan langsung keberadaan Brahman. Suatu proses yang mengantar ke pencapaian drishya dalam pratiba sebagai visi langsung terhadap kebenaran dimana eksistensi alam pikiran sebagai penelaah kebenaran menjadi jernih dengan pemunculan realitas kebenaran absolut dalam Brahman seperti dijelaskan Yoga Sutra I. 49 berikut,

rtambhara tatra prajna.

Kebenaran menjadi tidak lagi bersifat spekulatif melainkan faktual.

sumber : klik disini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar