Kamis, 26 Januari 2012

kupasan lontar ramalan di bali


Dalam sebuah teks berbentuk lontar yang judulnya “Indik Padiwasan” dari Geriya Pakarangan Budhakeling Karangasem, pada lembar lontar 13a – 38a muncul suatu bentuk tenung yang diistilahkan dengan Sasih Pangunyan.
Arti kata tenung di sini hampir sepadan dengan kata tenung dalam bahasa Indonesia yang bermakna kepandaian dan sebagainya untuk mengetahui (meramalkan) sesuatu yang gaib (seperti meramalkan nasib, mencari orang hilang).
Lantas, apa makna kata tenung dalam kaitan meramalkan peristiwa atau kejadian mendatang — terutama yang akan terjadi di Nusantara ini? —–MEMANG, khusus dalam bahasan ini, makna kata tenung diartikan sebagai cara untuk meramalkan kejadian-kejadian yang akan datang — terutama yang akan terjadi di Nusantara ini.
Sasih artinya bulan-bulan dalam sistem tahun Caka, sedangkan pangunyan adalah ketetapan yang diperoleh melalui perhitungan tenung.
Tenung secara tradisional dipakai untuk meramalkan bagaimana keadaan alam ke depan, pada ketentuan sasih atau bulan dalam angka tahun Caka, mengikuti sistem wariga atau kalender Bali.
Zaman dulu, biasanya para tetua di Bali mempergunakan Tenung Sasih Pangunyan ini sebagai landasan untuk menyiapkan diri secara sekala-niskala (lahir-batin) guna menyongsong datangnya sasih atau bulan dalam ketentuan Tahun Caka dengan ramalan-ramalannya. Tenung Sasih Pangunyan dalam teks lainnya (Candrapaleka) diistilahkan juga dengan Tenung Pangunyan Sasih.
Untuk menentukan ketetapan Tenung Sasih Pangunyan rumusnya sebagai berikut: tahun Caka dibagi 12, lalu sisa pembagian tersebut merupakan ketentuan yang menjadi ketetapan pangunyan-nya. Bilangan yang merupakan hasil pembagian pangunyan diistilahkan dengan sirah pangunyan yang artinya kepala pangunyan. Berikut berdasarkan ketetapan kepala pangunyan-nya barulah dapat diketahui bagaimana ramalan-ramalan tenung tersebut pada tahun yang hendak dicari.
Misalnya saat ini, tahun Caka 1928. Tahun Caka 1928 : 12 = 160 sisa 8.
Jadi, sirah pangunyan atau kepala pangunyan dari tahun Caka 1928 adalah 8. Setelah kepala pangunyan-nya didapat, tinggal melihat ketentuan sasih atau bulan pangunyan-nya.
Ketetapan dan ramalan Tenung Sasih Pangunyan pada tahun Caka 1928, menurut teks lontar Indik Padiwasan dari Geriya Pakarangan Budhakeling Karangasem sebagai berikut:
  • Sasih Waisyaka (10) ring Caitra (9) ngunya : watek pari pada rusak, tuna alapannia, wong mapasah, udan langah. Bulan 10 ngunya 9. Padi-padian rusak, panen kurang, banyak orang yang akan berpisah, hujan jarang-jarang.
  • Sasih Jyestha (11) ring Waisyaka (10) ngunya : rahayu, sarwa tandur murah, katmu madya, duwun tutuk manda ngaran. Bulan 11 ngunya 10. Baik, hasil panen murah, untung menengah, pangunyan sasih ini diistilahkan dengan dumun tutuk manda.
  • Sasih Asadha (12) ring Jyesta (11) ngunya : udan deres, meweh saparania, tatanduran hala-hayu. Bulan 12 ngunya 11, hujan deras, dilanda kesusahan semuanya, tanaman buruk dan ada juga yang baik.
  • Sasih Srawana (1) ring Asadha (12) ngunya, tasyaning sasih kasusupan pramga arep rahayu. Bulan 1 ngunya 12. Pada bulan ini banyak orang akan meminta-minta (tasyan = hasil meminta-minta, sedekah, zakat, derma, karunia, hadiah) memohon keseselamatan.
  • Sasih Bhadrapada (2) ring Waisyaka (10) ngunya, smara patemutangan, ikang sasih rodrasyamangan, tandur madya. Bulan 2 ngunya 10. Banyak orang yang akan terlibat percintaan dan pernikahan , sasih ini ada Rudra (dewa kehancuran) yang akan memakan (rudra-sya-amangan), tanaman menengah.
  • Sasih Aswina (3) ring Bhadrapada (2) ngunya, rem-rem ikang sasih, hala-hayu madya tatanduran. Bulan 3 ngunya 2. Pada bulan ini langit gelap, ada baik dan buruknya.
  • Sasih Kartika (4) ring Aswina (3) ngunya, panes madya, uyah dadi, katmu suka, wekasan hala. Bulan 4 ngunya 3, panas menengah, usaha garam berhasil, awal bulan memperoleh kebahagiaan, akhir bulan sengsara.
  • Sasih Magasirsa (5) ring Kartika (4) ngunya, kapas dadi, sugih raremahamrat panes madya. Bulan 5 ngunya 4, tanaman kapas berhasil panennya, (raremahamrat?) panas menengah.
  • Sasih Pusya (6) ring Magasirsa (5) ngunya, gering manglayung, suka duka udania, rumbang bhuwana. Bulan 6 ngunya 5, penyakit lemas, hujan mendatangkan suka dan juga duka, terjadi pergolakan di bumi.
  • Sasih Mukha (7) ring Pusya (6) ngunya, arigpragunungan, pada kurang panganan, jagung pada rebah, udan deres. Bulan 7 ngunya 6, gunung-gunung kering, makanan kurang, jagung rebah, hujan lebat.
  • Sasih Phalguna (8) ring Caitra (9) ngunya, udan deres matemahan hayu, patemu kasuka-sukan. Bulan 8 ngunya 9. Hujan deras namun membawa kebaikan, memperoleh kesenangan.
  • Sasih Caitra (9) ring Phalguna (8) ngunya, oreg, kang taru pada rusak, watek tandur pada mati, udan angin. Bulan 9 ngunya 8. Terjadi keributan, kegemparan, huruhara. Kayu-kayu rusak, segala yang ditanam mati, hujan disertai angin kencang.
Bencana Gempa Melalui ramalan ini marilah cocokkan kejadian bencana gempa di Jogjakarta dan Jawa Tengah yang berkekuatan 5,9 SR pada Sabtu, 27 Mei 2006 lalu itu. Tanggal 27 Mei menurut perhitungan wariga dengan sistim ngunyaratri-nya (ksayatithi) merupakan hari terakhir dari ketetapan sasih Jyestha dimana pada tanggal itu adalah tilem/krshnapaksa (bulan mati). Namun, jika mengacu pada ilmu astronomi, bulan mati sesunguhnya tidak jatuh pada tanggal 27 Mei 2006, namun jatuh pada tanggal 26 Mei 2006.
Jadi, berdasarkan kajian ilmu astronomi pada tanggal 27 Mei 2006 itu adalah hari pertama dari bulan berikutnya atau bulan baru, yang dalam wariga di Bali diistilahkan dengan pananggal apisan. Jadi tanggal 27 Mei tersebut adalah hari pertama dari bulan 12 (Asadha), perspektif kombinasi astronomi dan wariga.
Sekarang, mari perhatikan kembali ramalan Tenung Sasih Pangunyan pada bulan Asadha, “udan deres, meweh saparania, tatanduran hala-hayu.” Artinya, “hujan deras, dilanda kesusahan semuanya, tanaman buruk dan ada juga yang baik.”
Dari kutipan ini dapat dilihat hasil ramalan Tenung Sasih Pangunyan yang menyatakan pada bulan 12 (Asadha) tersebut manusia akan dilanda kesusahan (meweh saparania). Jika seandainya keterangan dari Tenung Sasih Pangunyan ini dapat diketahui jauh hari sebelumnya, seperti tradisi waspada para tetua di Bali tempo dulu, tentunya sedikit tidak orang dapat mawas diri dari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan.
Melihat adanya sedikit indikasi akurasi tenung Sasih Pangunyan — meskipun tidak spesifik — dengan bencana Jogjakarta dan Jawa Tengah, sedikit tidak teks ini cukup layak untuk kembali diperhatikan oleh masyarakat Nusantara dan yang berwenang untuk itu. Paling tidak, dapat dipakai bacaan spiritual untuk menetapkan perlunya peringatan-peringatan dini pada masyarakat yang berisiko bencana.
Meskipun tulisan ini tidak menyentuh rasionalitas dan jelas-jelas tidak ilmiah, tentu tidak salah untuk dibaca sebagai kekayaan budaya. Setidaknya, dari sini dapat diyakini bahwa untuk peringatan bahaya secara dini, para leluhur kita tidak kalah oleh para ilmuwan di negara-negara maju, meskipun mungkin pengarangnya (Indik Padewasan) tidak berdasarkan kajian-kajian yang ilmiah.
Selanjutnya, mari perhatikan baik-baik ramalan Tenung Sasih Pangunyan pada bulan Srawana (1) tahun 1928 Caka, ramalannya, “tasyaning sasih kasusupan pramga arep rahayu.” Artinya, pada bulan ini banyak orang akan meminta derma dan memohon keselamatan. Jika dalam sebulan lagi masyarakat Jogja dan Jawa Tengah masih tetap mengharapkan uluran tangan para dermawan dan tetap memohon keselamatan pada Tuhan, berarti ramalan teks Tenung Sasih Pangunyan ini ada benarnya, dan di sini terkandung kecerdasan spiritual pengarangnya. Nasi sudah menjadi bubur, kita hidup di negara yang memang rentan bencana. Kita hidup di negara di mana bencana telah menjadi kala maya yang tak terdeteksi, tidak ada teknologi apapun dan siapapun di negara ini yang mampu memprediksi datangnya bencana itu, serta tidak pernah ada pengumuman sebagai peringatan dini untuk datangnya bencana. Kita telah terpuruk dalam kimiskinan moralitas, krisis multidimensi dan sekarang bencana yang datang bertubi-tubi. Kali ini hanya rasa kemanusiaan dan nasionalisme yang harus tetap kita pertahankan.
Mari kita bantu saudara kita di Jogjakarta dan Jawa Tengah untuk menemukan kebahagiaannya kembali. Oleh IB Putra Manik Aryana

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar