Rabu, 04 Januari 2012

Konstalasi Manusia Dalam Dharma

Menurut ajaran Hindu mahluk hidup adalah pencerminan alam makro, mahabhawana, atau buana agung berbentuk mini dan disebut sebagai buana alit. Mahluk hidup juga punya bhur sebagai pewujudan bentuk dan bhuwah sebagai ruang antara pewujudan tersebut. Keduanya pradana dalam wujud unsur-unsur pembentuk tubuh. Disamping itu, mahluk menjadi hidup karena mempunyai kesadaran kosmis atau svar berupa purusa sebagai kesadaran jati diri atau atma. Walau terjalin oleh ikatan umum berupa rta, dharma pengikat prilaku mahluk hidup lebih berorientasi satya dalam wujud basis kebenaran. Seperti pada rta, satya dalam prilaku mahluk hidup-pun berlandaskan karma dan terwujud dalam kriya atau kreativitas.

Penyadaran terhadap satya dan rta secara khusus maupun terhadap dharma secara umum pertama-tama terjadi pada manusia. Hal ini karena manusia mempunyai kesempurnaan citta atau alam pikiran disamping punya kemampuan mengkomunikasikan hasil-hasil pemikiran dengan bahasa bermakna atau waktra dan mewujudkan pada prilaku atau karya. Manusialah penerima wahyu Yang Maha Kuasa dalam wujud shruti, wahyu terdengar, dan membukukan sebagai Veda Shruti.

Landasan utama memahami keberadaan satya sebagai azas kebenaran pengatur prilaku mahluk hidup dan rta sebagai realita hukum alam adalah vidya atau pengetahuan berkebenaran. Ingatlah para Maharsi merupakan brahmana atau ahli berjiwa murni (Yaksacharya Nirukta 2.11 dan Taittirya Aranyaka 2.9.1), bukan orang bodoh atau orang sembarangan. Orang yang memahami realita alam dan ketuhanan pada jamannya sesuai kemampuan pramana dan pratiba yang muncul dari penggalian dan pengasahan kecerdasan melalui penyadaran diri dan hakekat semesta. Jadi, telaah vidya terhadap kedua hukum di atas berdasarkan pramana merupakan cikal bakal pengembangan pengetahuan manusia, baik empirik maupun metafisik. Bahkan pramana sekarang mengejawantah pada metoda ilmiah dari dunia ilmu pengetahuan modern.

Pada awal-awal penyebaran dharma, telaah vidya menyebabkan manusia mampu menggali hakekat ajaran-ajaran satya dan rta dalam Shruti serta mencerminkan sebagai norma-norma dan hukum-hukum tertulis atau dharmasastra. Norma-norma dan hukum-hukum, baik fisik maupun sosial, yang berguna untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemuliaan manusia serta untuk membatasi keliaran gerak manusia sehingga bisa bebas bergerak tanpa saling mengganggu hak azasi masing-masing.

Kenyataan di atas mengokohkan manusia sebagai objek hukum karena terikat dharma sekaligus merupakan subjek hukum karena memunculkan nilai-nilai satya dan rta dalam dharma disesuaikan dengan strata masyarakat dari masa ke masa.

Ungkapan satya dan rta memokuskan kesadaran manusia sebagai pengemban dharma. Kesadaran sebagai titik sangat kecil pada lingkaran kesadaran besar absolut dan transcendental dari mana harapan-harapan dalam konteks-konteks keagamaan muncul.

Harapan merealisasi eksistensi diri pada satu sisi berpuncak pada atmanastuti. Stuti atau harapan mewujudkan ana atau pemahaman terhadap atma atau jati diri yang murni dan bebas dari ikatan. Harapan yang mengantar ke pendewasaan diri berupa realisasi jati diri sebagai manusia kreatif dan bertanggung jawab terhadap segala aktivitas yang dilakukan dengan penuh kesadaran bermoral dan berbudaya.

Harapan pada sisi lain muncul dari eksistensi diri dalam hubungan dengan dunia luar. Suatu fakta yang mengejawantah sebagai ikatan pada diri sendiri, pada keyakinan secara spiritual, pada sesama manusia dan mahluk hidup lain, serta pada lingkungan. Hal ini dilambangkan dengan tapak dara atau tanda tambah simetris.




Gambar 2. Tapak dara

Titik kecil ditengah tapak dara menggambarkan manusia sebagai mahluk individual. Garis vertikal ke atas melambangkan hubungan manusia dengan Yang Maha Kuasa sebagai pewujudan ikatan pada keyakinan spiritual. Garis horizontal ke kanan berkenaan dengan hubungan pada sesama manusia. Garis horizontal kekiri menggambarkan hubungan manusia dengan mahluk hidup selain manusia. Garis vertikal ke bawah adalah hubungan manusia dengan lingkungan non mahluk hidup. Kesemua hubungan dikelola sedemikian rupa menuju keharmonian semesta. Suatu aktivitas bermakna positif atau krta-artha yang dilambangkan dengan swastika pradaksina atau swastika berputar ke kanan.

Harapan kedua ini berakhir pada Brahmanastuti. Harapan pemahaman keberadaan Brahman dengan segala ciptaan-Nya yang disadari melalui bantuan brahmavido berupa pengetahuan berkebenaran dalam pembelajaran sepanjang masa baik secara formal, informal, maupun non formal.
Puncak harapan-harapan di atas, atmanastuti dan brahmanastuti, adalah terserap dalam kesadaran absolut Brahman atau kaivalya dan disebut sebagai moksa. Kesadaran dipenuhi oleh kebenaran absolut atau dharma mega (Yoga Sutra IV. 29-34). Suatu kondisi yang menghasilkan keadaan suka tanpawali duka. Kebahagiaan abadi dan bebas dari segala duka akibat libatan duniawi.

Sekali lagi, tujuan akhir dari perjalanan bukanlah untuk mencapai kenikmatan sorga malainkan merealisasi moksa dalam kesadaran Brahman.

Perlu dipahami bahwa sorga pada konteks loka sama dengan konteks loka-loka lain seperti maya loka dan neraka loka bersifat tidak abadi dan masih merupakan fungsi pola-pola keberadaan-ruang-waktu atau sakala. Sorga loka hanyalah tempat transit punarbhawa. Tempat menikmati pahala sementara sesuai hasil shuba karma berupa perbuatan baik. Sedangkan tempat transit sementara terkait dengan ashuba karma atau perbuatan tidak baik adalah neraka loka. Keberadaan sorga dan neraka pada konteks loka banyak ditemui di cerita-cerita dan sejarah-sejarah kuno seperti purana, itihasa, dan lain-lain. Telaah terhadapnya memerlukan makna filosofis dari penerbitan cerita-cerita kuno tersebut.

Di atas telah dipaparkan bahwa kebenaran hakiki bersifat absolut dan dapat direalisasi melalui kemampuan pratiba. Visi kebenaran yang hanya dimiliki oleh individu-individu tertentu seperti para Maharsi. Masyarakat secara umum tidak mempunyai kemampuan pratiba. Itupun disertai tingkat pemikiran sangat sederhana dan tidak semaju sekarang. Disamping kekerasan hukum rimba fisik saat itu memaksa manusia saling bersaing mempertahankan hidup sehingga bentuk-bentuk heroik menjadi panutan.

Mengajarkan hukum-hukum kebenaran kepada masyarakat demikian tentu sangatlah sulit. Selain pola pengajaran dan bahan ajar harus sesederhana mungkin, diperlukan penokohan sebagai teladan, janji-janji kenikmatan sebagai arahan berprilaku mulia, dan hukuman sebagai ganjaran berprilaku tak layak. Prakondisi sedemikian rupa menyebabkan mengapa penulisan cerita-cerita kuno bersifat heroik, fantastik dan hayal seperti dijelaskan Radhakrishnan di Manchester Collige, Oxpord (S Radhakrishnan dalam Agus S. Mantik, 2002).

Visi penulisan tersebut adalah mengembangkan ide cerita yang berisikan ajaran-ajaran berbentuk sederhana dan mudah dipahami masyarakat karena bersifat dapat terap melalui pencontohan terhadap prilaku para tokoh. Cerita-cerita yang membimbing manusia untuk berprilaku kreatif dan mulia.

Secara prinsip, dalam cerita-cerita kuno, konteks kebenaran sorga tersembunyi. Sorga yang berdasarkan bahasa Sanskrit disebut svarga tersusun dari akar kata svar berarti penerang atau pencerah karena bersinar dan ga seperti pada marga berarti jalan. Sorga atau svarga merupakan jalan mencapai pencerahan dalam bentuk kesadaran jati diri berpuncak pada pencapaian Sang Pencerah, Surya atau Brahman. Inilah makna dari setiap stute atau doa dalam dharma dengan pengucapan kata ‘ya namah svaha’. Ya namah atau dengan nama-Mu sebagai wujud penghormatan cerahilah, svaha, hamba.

Pada konteks marga, svarga menjadi sangat penting. Inilah diuraikan sebagai catur marga pada bahasan 4 di atas. Dengan cara demikian manusia berkreasi melalui karma marga, mengasah kecerdasan untuk membuka peluang berkreasi melalui jnana marga dan menjalankan pengendalian serta pengelolaan aktivitas dan kreativitas diri melalui yoga marga ditujukan untuk berbakti pada Brahman.

Berkenaan dengan svarga sebagai jalan pencerahan maka pada konteks loka seperti dijelaskan dalam Sarasamuscaya dan Mahabarata Shantiparva 141.65, kehidupan manusia di maya loka menjadi sangat penting, bukan di sorga atau neraka loka. Di sini, di alam inilah manusia melalui pencerahan bisa meningkatkan diri secara duniawi maupun rohani berdasarkan dharma. Tujuannya mencapai jagadita atau kesejahteraan hidup dan berakhir pada pencapaian kebahagiaan batin dalam moksa. Kebahagiaan absolut yang tidak lagi merindukan janji-janji kenikmatan sesaat dari setiap loka. Tujuan ini sangat realistis dan ideal. Bukan tahayul, hayalan, atau sekedar mimpi-mimpi tanpa wujud nyata. Semua bisa diraih melalui dharma karena ada langkah-langkah pasti untuk mendapatkan.

sumber : klik disini 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar