Senin, 16 Januari 2012

Warisan Hindu Bali

Om Swastyastu,
Ketika kita membahas tentang Kebenaran yang Abadi (baca:Tuhan Yang Maha Esa), leluhur Bali memberikan penjelasan yang sangat simple, Beliau adalah Acintya (Tak Terfikirkan), bagaimanapun logika kita membahas Beliau, tidak akan pernah nyampe…,
Apapun yang dijelaskan dengan kata-kata tentang Beliau, itu semua keluar dari logika, dan itu tidak akan menyentuh-Nya secara menyeluruh…..termasuk semua penjelasan yang diberikan manusia tentang Tuhan yang tertulis maupun yang lisan.
Hyang Widdhi/Parama Atman tak terfikirkan, kata-kata tidak mampu menjangkau Beliau, oleh karenanya lahir simbol-simbol yang melukiskan melebihi kata-kata… ada (Om/AUM), (Ang/Ah) rwa bhineda, dua hal yang berlawanan.., Tri Murthi (Ang…Ung… Mang) Penciptaan, Pemeliharaan dan Pengembalian, ada Na Ma Si Wa Ya, ada Sa Ba Ta A I…dstnya, Ada mudra bahasa gerak…..ada upacara/ritual….
Berbicara mengenai spritual tidak hanya menyangkut pemuasan logika, karena juga ada rasa, juga ada budhi, juga ada karma… oleh karenanyalah timbul ajaran Catur Yoga, Jnana Yoga = Logika/jnana, Bhakti Yoga=Rasa,  Karma Yoga = Karma/Action, Raja Yoga = Konsentrasi dan Pengendalian Diri..
Dalam Hindu Bali, keempat Yoga bersinergi menyatu menjadi sebuah aktivitas yang sangat harmonis. Jnana Yoga dengan pengajaran tentang Filsafat/Tattwa.Bhakti Yoga dengan sarana rasa lahirlah berbagai bentuk seni… (rupa, tarian, nyayian/suara/kekidungan). Karma Yoga, tercermin dalam kehidupan yang jujur, tidak heran bila orang Bali dikenal dengan jujur secara umum.., tidak emosional sehingga walau tragedi Bom terjadi berulangkali namun menanggapinya dengan kasih dan mendoakan mereka bukan dengan reaksional….. Dari Raja Marga Yoga ini kemudian banyak orang Bali yang betel tinggal, mampu mengetahui masa lalu dan masa datang, hingga sering kali seorang murid datang ke sulingggih mau bertanya, sebelum sempat diucapkan pertanyaannya telah terjawab ketika diajak bersenda gurau oleh sang Sulinggih….
Produk dari semua aktivitas ini maka Bali menjadi tempat yang indah/Sundaram (dengan berbagai produk seninya),damai/Siwam (karenanya banyak orang datang mencari kedamaian ke Bali hingga kini, sebut saja nama-nama tokoh Elisabet Gilbert (Eat Pray and Love), Petenis Daniela Hantucova, Kimiko, Pelukis terkenal Antonio Blanco, dll…dan banyak pula orang melakukan riset di Bali…), satyam/jujur (orang Bali dikenal dengan jujur dan tidak emosional….)
Apa Pijakan orang Hindu Bali…? jelas VEDA..
Terus bagaimana dengan lontar-lontar di Bali…? Lontar adalah seperti Buku yang ditulis oleh para guru-guru spritual yang telah mencapai pencerahan, jaman dulu belum ada kertas adanya daun lontar, belum ada pena adanya pengutik yang digunakan untuk nulis di atas daun lontar. Daun lontar yang ditumpuk ini dikenal dengan Lontar, dikenal juga dengan nama cakepan, karena daun-daun lontar ini dicakupkan satu sama lain dijalin sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah karya seperti kitab. Lontar adalah penjelasan dari Veda, kok tampak beda….dengan Veda? bagi yang tidak mengerti itu tampak beda, bagi yang mengerti justru mereka beruntung tidak perlu jauh-jauh belajar, karena telah diwariskan oleh leluhurnya.
Kenapa banyak orang alergi dengan kata lontar…?
Karena mereka percaya isu tanpa mau membaca dan mempelajari isinya telah memberikan penilaian sepihak..
Apa parameter orang itu berhasil dari ajaran spritual yang dia tekuni…?
1. Perbuatannya selalu membawa kebaikan baik bagi dirinya maupun bagi orang lain dan lingkungan
2. Kata-katanya lembut membawa kesejukan dan memberikan pencerahan…
3. Pikirannya bersih dan suci yang tercermin dari wajah yang teduh dan damai.., tercermin dari perkataan dan perbuatan yang harmonis
Ketiga ini disebut dengan TRI KAYA PARI SUDDHA yang diajarkan oleh leluhur Hindu di Bali..

Adakah parameter yang lain…? Tentu ada.
1. Orang itu mampu menjaga keharmonisan dengan Hyang Widdhi Wasa, Para Dewa, Leluhur
2. Orang itu mampu menjaga keharmonisan dengan sesama manusia
3. Orang itu mampu menjaga keharmonisan dengan lingkungannya, tidak sembarangan melakukan pencemaran baik dengan perbuatannya, dengan kata-katanya, maupun dengan pikirannya, dan juga dengan emosi/perasaannya…
Ketiga ini disebut dengan TRI HITA KARANA yang diajarkan oleh leluhur Hindu di Bali…

Nah jadi bagaimana dengan Bhagavad Gita…? apakah ajaran-ajaran di lontar itu bertentangan..?
Orang Hindu Bali sejak dulu sangat mencintai kitab suci Maha Bharata, yang dituangkan dalam Cerita Wayan Kulit, kekawin Arjuna Wiwaha, Kidung-kidung suci,Sekar Madya dan Sekar Agung… Bhagavad Gita hanyalah salah satu bagian dari Maha Bharata yaitu di Bhisma Parwa, dimana Maha Bharata terdiri dari 18 Parwa… Demikian orang Hindu Bali sangat akrab dengan Mahabharata, bahkan dalam setiap aktivitas upacaranya mereka menyayikan kidung-kidung suci ini…. jadi Maha Bharata menjiwai Agama Hindu Bali… apa mungkin ajaran Hindu Bali bertentangan dengan Bhagavad Gita…? Ya jelas Tidak…
Kalo ada orang yang melihat itu bertentangan dengan Bhagavad Gita…? tentu saja itu mungkin karena dia tidak memahami Hindu Bali dengan Baik bisa saja toh salah penilaian…..
Demikian sharing titiang kirang langkungne ampura..
kalo ada kata yang benar itu karunia Hyang Widdhi,
kalo ada kata yang tidak berkenan itu murni karena kebodohan kami, mohon maafkan kami…
Semoga semua mahluk berbahagia
Semoga jagate sami pada rahayu…

damai…
Made Mariana/Abu Dhabi – UAE

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar