Jumat, 13 Januari 2012

Tirta Yatra

Om Swastyastu
Yan patmu ikang sattwa lawan rajah, prakasa geng irikang citta, yeka nimitta ning atma para ring swarga. Apan ikang sattwa mahyun magawaya hayu, ikang rajah manglakwaken sumiddhaken saprayojana ning sattwa.(Tattwa Jnyana.10).
Brahma Kun - Kuru Ksetra
Maksudnya:
Bila Guna Sattwam bertemu dengan Guna Rajah terang bercahayalah Citta (pikiran) itu. Itulah yang menyebabkan Atman sampai di sorga. Karena Guna Sattwam menyebabkan orang ingin berbuat baik, maka Guna Rajah-lah yang melaksanakan, sampai berhasil mencapai semua kehendak Guna Sattwa itu.
Dalam agama hindu dikenal ada tiga kharakteristik manusia yang selalu ada pada diri manusia yang mempengaruhi kehidupannya. Tiga kharakteristik itu dikenal dengan Tri Guna; Yaitu
1.       Satwam: kharakter : tenang, stabil, berada pada kesetimbangan.
2.       Rajas : kharakter aktip, bertenaga, cepat, gesit
3.       Tamas: kharakter lembam, tidak aktip, diam, pasip
Ketiga hal ini ada pada setiap manusia namun kadarnya yang berbeda-beda, mereka akan saling menguasai. Untuk mencapai kesuksesan dan kebahagiaan (baca:sorga) dalam hidup ini maka kita membiasakan diri untuk memberikan ruang yang banyak kepada satwam = tenang, berada pada keseimbangan ini, sehingga akan muncul kejernihan pikiran dan hati yang menghasilkan ide-ide brilian. Ide ini akan bisa terealisasi bila ada energi untuk mewujudnyatakan, nah dalam hal ini kita memerlukan rajas, oleh karenanya ketika guna satwam bertemu dengan guna rajas maka, tujuan-tujuan suci, ide-ide brilian akan terlaksana.
Untuk mencapai kebahagiaan dan kesuksesan di dunia ini maupun di sunya (baca:akhirat), ada empat jalan yang bisa ditempuh yaitu:
1.       Jalan pengabdian/bhakti yang didasari oleh rasa
2.       Jalan pengetahuan yang didasari oleh logika
3.       Jalan aktivitas yang didasari oleh kerja (aktivitas)
4.       Jalan yoga yang didasari oleh pengendalian diri dan konsentrasi

Salah satu aktivitas spiritual yang merupakan perwujudan rasa pengabdian kepada Hyang Widdhi adalah dengan mengunjungi tempat-tempat suci, tempat dimana kita memuja Hyang Widdhi, untuk mendapatkan air kehidupan, untuk mendapatkan ketenangan batin. Aktivitas ini disebut dengan Tirtha yatra/Dharma yatra. Tirtha yatra berasal dari kata Sanskertha “Tirtha dan Yatra” : Tirtha : air suci, air kehidupan. Jadi Tirtha Yatra : Perjalanan suci  untuk mendapatkan air suci, air kehidupan. Dimana air suci ini didapatkan di tempat-tempat suci, seperti di Pura, di Danau, di Laut, Di Hulu Sungai atau sumber air (biasanya di lembah), di puncak gunung. Di tempat-tempat ini didirikan pura untuk memuja kemahakuasaan Hyang Widdhi. Jadi Tirtha Yatra itu tidak lain adalah melakukan perjalanan ke Pura/Temple.

Tirtha Yatra ini akan berjalan dengan baik bila di dasari dengan penuh pengabdian dan rasa yang ikhlas (bhakti), dilakukan (karma) dengan penuh konsentrasi dan pengendalian diri (yoga) yang didasari dengan pengetahuan yang benar dan suci (jnana/pengetahuan).
Dharmayatra/Tirthayatra bisa dilaksanakan mulai dari tempat-tempat suci yang terdekat, disesuaikan dengan kemampuan financial dan waktu yang dimiliki, Tirtha yatra tidak harus pergi jauh misalnya pergi ke India, Bangkok, Nepal, Tibet, dll, namun dapat dilaksanakan dimana-mana, yang penting dilaksanakan dengan penuh pengabdian (bhakti) yang tulus ikhlas, kejernihan pikiran yang didasari oleh pengetahuan suci, dan pengendalian diri serta konsentrasi yang baik. Kenapa perlu pengendalian diri dan konsentrasi (focus)…? Karena dalam prosesnya setiap aktivitas apapun akan banyak menemukan godaan, baik dari dalam diri maupun dari luar diri.

Misalnya: ketika kita bertirtha yatra yang tujuan utamanya focus untuk melakukan perjalan suci untuk mendapatkan kedamaian, karena di tempat suci itu biasanya juga merupakan tempat wisata yang disekitarnya banyak tempat perbelanjaan, maka godaan pertama adalah keinginan untuk berbelanja (baca:shopping), Banyak peserta tirta yatra lupa waktu keasikan berbelanja, sehingga waktu-waktu suci untuk sembahyang terlewatkan, sehingga vibrasi suci dari tempat-tempat suci itu tidak didapatkan, yang didapatkan hanyalah barang-barang belanjaan… nah disinilah diperlukan pengendalian diri dan focus…

Di dalam Sarassammuccaya juga dikatakan bahwa melaksanakan Dharmayatra/Tirthayatra dengan hati yang tulus ikhlas adalah melebihi dari pelaksanaan yadnya. (Made Mariana/Abu Dhabi, 07 April 2011)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar