Rabu, 04 Januari 2012

Memupuk Dharma Berazaskan Spirit Veda

Telah dijelaskan bahwa agama secara filosofis dan historis bukanlah tahayul, melainkan pembahasan sraddha sebagai keyakinan mendasar. Pengenalan agama secara demikian penting bukan saja demi sekedar paham dan bangga atas eksistensi agama sebagai awal mula pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan untuk melihat apa tindak lanjut sebagai ‘follow ups’ atau ‘what’s next’ dari pemahaman terhadap filosofi keberadaan agama. Agar dapat berbuat demikian, marilah melihat salah satu pilar pengokoh dharma sebagai dasar mengisi rumah keyakinan tersebut.

Salah satu pilar pengokoh dharma seperti telah dijelaskan di atas yang juga menjadi inti realitas adalah “satya” yang secara kasar diterjemahkan sebagai realita kebenaran. Satya atau satyam merupakan gabungan akar kata sanskrits sat + ya. Sat atau sad berarti realita, fakta, kebenaran. Bahkan kalau dilihat dari makna keabsolutan realita, seperti dalam mantram

OM Tad Sat
yang tercantum dalam kitab Bhagavadgita, maka sat sebagai realita atau kebenaran absolut itu adalah Brahman sebagai hakekat dari Tuhan (Mahanirwana Tantra IV.77-78). Sedangkan ya, yah, atau yam merujuk pada Brahman sebagai penunjuk dalam wujud penghormatan, bakti atau cinta kasih. Secara etimologi dalam makna hakiki, satyam berarti kebenaran absolut tertinggi atau Brahman seperti dapat disimak dari sloka

satyam shivam parodharma.

Namun dari sisi prilaku dan pemahaman manusia, satyam lebih bermakna mencintai realita, fakta, atau kebenaran dan sekaligus sebagai wujud cinta kasih dalam bakti pada Brahman.

Kesadaran terhadap satyam sebagai cinta kasih dalam bakti pada Brahman menuntut manusia cinta kebenaran. Cinta pada Brahman dalam hal ini berarti harus mencintai relita atau fakta sebagai wujud kebenaran. Sebagai cinta terhadap realita kebenaran maka orientasi satya menyebabkan dan menganjurkan manusia mau menguak rta atau hukum-hukum alam dan satya sebagai realita kebenaran faktual untuk dapat diterapkan pada segala aktivitas dan kreativitas hidup. Dengan demikian satyam sebagai cinta terhadap kebenaran bisa tercermin secara natural dalam segala prilaku. Kegunaannya disamping memudahkan dalam menjalani kehidupan, juga untuk meningkatkan diri lahir dan batin.

Berkenaan dengan usaha menguakkan rta dan satya untuk meningkatkan diri secara duniawi dan rokhani menyebabkan Gayatri Mantram atau Gayatristawa dengan Savitri Puja atau puja terhadap Murti Yang Maha Esa sebagai Sang Pencerah diagungkan sebagai Vedamata atau ibu segala mantra Weda, baik Shruti maupun Smrti. Gayatri Mantra dengan Savitri Puja yang tercantum pada Rg Veda III.62.10, Yajurveda II.35, XXX.2, XXXIV.3, dan Samaveda III.10.1(1426) sekaligus menjadi inti segala mantra yang wajib diucapkan pada setiap melakukan persembahyangan, harian minimal dua kali (Manusmrti II.101-102) maupun pada moment-moment tertentu. Mengapakah demikian?

Marilah dilihat spirit Gayatri Mantram dengan Savitri Puja sebagai srividya atau pengetahuan dari mantra agar bisa memaknai secara filosofis. Dalam hal ini perlu dijelaskan terlebih dahulu bahwa mantra bukanlah jampa-jampi yang bermakna negatif, sesuai pemahaman masyarakat selama ini. Jampa-jampi yang diucapkan untuk menggoalkan suatu niatan buruk terhadap individu atau kelompok individu lain. Mantra adalah untaian Wahyu Tuhan yang tercantum dalam kitab wahyu suci Veda, yaitu Veda Shruti. Mantra berasal dari kata manas yang berarti pikiran aktif dan trayate yang berarti menyeberangkan. Dengan demikian, mantra sebagai untaian Wahyu Tuhan diturunkan untuk mengantarkan pikiran aktif manusia menyeberangi keduniawian menuju Brahman dalam kesadaran berketuhanan. Pengembangan makna negatif terhadap mantra secara historis, seperti kata deva, pada awalnya ditengarai sengaja dilakukan. Suatu kesengajaan dalam proses sejarah atas dasar makna politis untuk mendiskreditkan suatu ajaran. Makna negatif ini kemudian membudaya dalam khasanah masyarakat yang tidak faham terhadap makna mantra secara benar.

Kembali pada penguakan spiritnya, Mantra secara menyeluruh adalah netral. Namun pada penguraian terhadap bagian-bagiannya, maka sifat maskulin dan feminim dari tubuh mantra bisa dibedakan. Sifat maskulin tampak pada bija mantra sebagai pokok utama mantra. Sedangkan sifat feminim tampak pada uraian mantra sebagai sriwidya atau pengetahuan yang berfungsi menjelaskan kegunaan mantra tersebut (Mantra and Vidya, 1995).Veda Shruti memberikan contoh pemahaman yang sangat baik. Pada awal kitab tersebut, bija mantra OM atau Pranawa bersifat maskulin dan menjadi inti mantra Veda. Adapun untaian-untaian kalimat Veda bersifat feminim dan menjadi sriwidya atau pengetahuan dari Veda.

Sangat perlu untuk diperhatikan agar berhati-hati dalam mencermati Sriwidya dari mantra Veda. Berdasarkan tingkat kesulitan pada pemahamannya, pengetahuan Veda ini menyebabkan mantra Veda dapat digolongkan menjadi tiga jenis. Mantra yang bersifat pratyaksa adalah mantra yang langsung bisa dicerna oleh pemahaman awam. Mantra bersifat adhyatmika bisa difahami setelah memiliki kejernihan penalaran batin. Adapun mantra yang bersifat paroksa hanya bisa dipahami bila kondisi lahir batin pemahaman dibuat sama seperti saat wahyu itu diturunkan.

Sifat-sifat badan mantra seperti ini mesti dipahami dengan benar. Tanpa pemahaman terhadap maknanya, mantra tidak akan bermanfaat sebagai penghasil pencerahan (Nirukta I.1.18). Walaupun setiap hari memapari diri dengan kebenaran melalui pengucapan mantra, atau bahkan berjapa, kalau tidak memahami maksudnya akan tidak menghasilkan peningkatan diri lahir batin, selain hanya bermakna rutinitas.

Mantra gayatri diawali dengan pengucapan bijaksara OM diikuti wyahrti sebelum pengucapan mantra Savitri. Kalau dilihat dari aturan pengucapan mantra, harus diakhiri dengan pengucapan wasat (Manusmrti II.101) agar mantra menjadi menginternal alias tidak menguap begitu saja. Mantra tersebut secara lengkap berbunyi:

OM bhur bhuvah svah
tat savitur varenyam
bhargo devasya dhimahi
dhiyo yonah pracodayat OM.

OM atau pranawa seperti dijelaskan diatas merupakan bijaksara puja yang menyadarkan kita sebagai mahluk tak sempurna. Ada hakekat Yang Maha Sempurna yang menjadi penuntun dan tujuan hidup. Dialah dipersonifikasikan sebagai Yang Maha Kuasa, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang, dan lain-lain. Yang Maha Esa atau Yang Maha Tunggal itulah dipuja dengan bija mantram OM. Bija mantra yang disebut pranawa, prana = energi kehidupan dan aw = memelihara, karena menjaga dan memelihara energi kehidupan.

Dia yang dipuja dengan bijaksara OM mempunyai kemuliaan tak terbatas. Untuk mudah memahami lihatlah kemahamulyaan-Nya. Bukankah semesta yang meliputi segala yang muncul atau bhuh mulai benda renik sampai benda-benda langit, ruang antara bhuh yang disebut bhuvah atau antariksam, dan kesadaran kosmis atau svah yang berada dibalik keberadaan semesta merupakan wujud kemahamulyaan, varenyam, dari Dia yang selalu menjadi Sumber Pencerahan atau Savitri ini?

Dhimahi adalah memuja dengan cara memusatkan pikiran dalam pembelajaran dan perenungan selalu terhadap keagungan, devasya, dari Dia yang menjadi sumber segala ini, Bhargo. Semogalah Dia, yah, mencerahi dengan cara membuka kesadaran dan meningkatkan kecerdasan, pracodayat, dari pikiran atau dhiyo kita, nah.

Inilah spirit utama Gayatri Mantram. Terlepas dari makna mistis yang menyertai mantra tersebut, manusia mesti berprilaku kreatif untuk meningkatkan diri melalui pencerahan (Maitri Upanisad VI.6-7). Suatu proses yang dapat diperoleh melalui pembelajaran terhadap segala keagungan Brahman baik berupa semesta beserta isi semesta maupun melalui pembelajaran terhadap prilaku mereka.

Spirit vedamata adalah natural karena berkenaan dengan sifat manusia sebagai mahluk kreatif yang menjadi pembeda dari mahluk-mahluk hidup lain. Karena berdasarkan kreativitas, manusia bisa merumuskan abstraksi peluang-peluang prilaku. Suatu perumusan tidak saja berkenaan dengan suatu objek yang sedang atau telah pernah dihadapi, tetapi juga terhadap sesuatu yang bakal atau mungkin belum pernah dihadapi.

Kreativitas manusia merumuskan peluang-peluang prilaku berawal dari pengenalan terhadap suatu problem kemudian berlanjut pada abstraksi prilaku dalam tingkat-tingkat akurasi pemodelan. Tentu saja kesahihan terap dari model yang diabstraksikan bergantung pada sakala atau posisi dan avastha atau kondisi dari landasan pijak pembentukan model tersebut.

Pemodelan selalu berkaitan dengan misi dan visi prilaku. Visualisasinya merupakan daya untuk menggapai tingkat peluang-peluang keberhasilan. Terutama berkenaan dengan kepuasan sebagai peneliti. Kepuasan pertama terletak pada seberapa akurat misi dan visi termodelkan bisa divisualisasikan. Berlanjut pada seberapa jauh dia mampu meramalkan prilaku-prilaku sejenis dimasa depan. Namun inti kepuasan tidak cukup hanya berhenti disitu. Kepuasan lanjut muncul dari apa tindak lanjut prediksi, predictable dan unpredictable, terhadap visualisasi model yang dibuat.

Tindak lanjut internalisasi spirit Vedamata Gayatristawa adalah pengenalan tahap lanjut dari pengertian satya. Menurut uraian tentang panca satya sebagai lima macam kebenaran dan panca nrta sebagai lima macam kebohongan pada pendidikan dasar agama yang dikembangkan, maka inti pengertian satya sebagai cinta kebenaran adalah ketepatan mengorientasikan tindakan dengan benar atau selalu bertindak tepat dan benar. Tentu saja agar dapat berprilaku demikian disamping diperlukan pembelajaran untuk meluaskan wawasan juga pembelajaran untuk meningkatkan kecerdasan dengan cara mengubah kecerdasan dari tingkat ajnana atau pralogik menuju kecerdasan kreator atau brahmajnana beserta pemahaman teknik-teknik pengelolaan karma (IGMA Sanjaya, 2002).

Tindak lanjut pemahaman satya sangat diperlukan untuk merambah ilmu pengetahuan dan teknologi yang bergerak semakin maju. Disamping supaya tidak terasing dalam kehidupan di dunia yang semakin modern. Perlu diperhatikan bahwa sebentar lagi manusia menuju ke era teknologi efektif dalam ekspansi ruang angkasa. Gejala-gejala itu sudah mulai tampak dengan keberadaan prototipe pengkondisian hidup di angkasa luar seperti di stasiun-stasiun ruang angkasa sebagai satelit yang telah dapat ditempati. Dalam waktu relatif singkat, setelah mengatasi kendala transportasi efektif perjalanan lintas ruang atau teletrapoid, manusia sudah akan mampu memindahkan biosfir dan ekologinya ke planet-planet lain di tata surya. Bahkan berlanjut ke tempat-tempat lain di luar tata surya.

Melihat pembahasan serta perkembangan di atas, mengapakah masih tenggelam ke dalam ‘alam maya’ bergelut dengan setan, hantu-hantu penasaran atau mahluk-mahluk sejenis yang penuh tahayul dan bersifat klenis. Lihatlah mereka telah maju dan berada di ‘dunia maya’ yang penuh informasi perkembangan serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sekali lagi, lihatlah mereka yang telah bergelut dengan kecerdasan buatan untuk kemudahan dan pemudahan hidup. Jadi pantaskah kita masih berpijak pada pemikiran mundur yang notabene menyimpang dari spirit Weda?

Marilah belajar dari Weda untuk menuju kebenaran, kebijakan, dan kehidupan (Yajurveda dan Brhad-aranyaka Upanisad) dan marilah belajar untuk kebahagiaan semesta,

OM asato maa sadgamaya
tamaso maa jyotir gamaya
mrtyor maa amrtam gamaya
OM sarva samastha sukhinoh bhavatu
“OM”

sumber : klik disini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar