Kamis, 19 Januari 2012

Catur Marga Yoga – Jalan Bhakti Yoga

Om Swastyastu,
Tuhan sebagai pencipta Alam samesta ini, beliau maha segala-galanya. Bersifat Acintya = Tidak Terpikirkan. Beliau bersifat Nirgunam = Tidak berwujud, bersifat Sagunam = Berwujud.
Bagaimanakah cara kita untuk mendekatkan diri dengan Beliau…? bagaimanakah cara kita untuk berjumpa dengan-Nya…? Sungguh sesuatu yang sulitkah untuk berjumpa dengan-Nya.
Dalam agama Hindu kita diajarkan ada empat jalan untuk menuju kepada-Nya. Empat jalan ini disebut dengan CATUR MARGA: Catur = Empat, Marga = Jalan. Seperti apakah Catur Marga itu…?
Catur Marga adalah empat jalan untuk menuju Tuhan Yang Maha Esa:
1. Bhakti Marga
2. Karma Marga
3. Jnana Marga
4. Yoga Marga
1. BHAKTI MARGA
Bhakti artinya cinta kasih. Kata bhakti ini digunakan untuk menunjukkan kasih kepada objek yang lebih tinggi atau lebih luas cakupannya. contoh: kepada orang tua, para leluhur, para dewa, Tuhan Yang Maha Esa. Kata cinta kasih digunakan untuk menunjukkan cinta kepada sesama manusia atau mahluk di bawah mansuia : kawan, keluarga, pacar, tetangga, rekan kerja, binatang, tumbuh-tumbuhan, alam samesta ini. Jalan Bhakti Marga: jalan untuk menuju Tuhan Yang Maha Kuasa dengan menggunakan sarana RASA. Orang yang melakukan jalan bhakti disebtu Bhakta.
Dari caranya mewujudkan, bhakti dibagi dua yaitu
  1. PARA BHAKTI dan
  2. APARA BHAKTI.
Para artinya utama; jadi para bhakti artinya cara berbhakti kepada Hyang Widhi yang utama, sedangkan apara bhakti artinya tidak utama; jadi apara bhakti artinya cara berbhakti kepada Hyang Widhi yang tidak utama. Apara bhakti dilaksanakan oleh bhakta yang tingkat inteligensi dan kesadaran rohaninya kurang atau sedang-sedang saja. Para bhakti dilaksanakan oleh bhakta yang tingkat inteligensi dan kesadaran rohaninya tinggi.
Ciri-ciri bhakta yang melaksanakan apara bhakti antara lain banyak terlibat dalam ritual (upacara Panca Yadnya) serta menggunakan berbagai simbol (niyasa).
Ciri-ciri bhakta yang melaksanakan para bhakti antara lain sedikit terlibat dalam ritual tetapi banyak mempelajari Tattwa Agama dan kuat/berdisiplin dalam melaksanakan ajaran-ajaran Agama sehingga dapat mewujudkan Trikaya Parisudha dengan baik dimana Kayika (perbuatan), Wacika (ucapan) dan Manacika (pikiran) selalu terkendali dan berada pada jalur dharma. Bhakta yang seperti ini banyak melakukan :
  1. Drwya Yadnya (ber-dana punia),
  2. Jnana Yadnya (belajar-mengajar), dan
  3. Tapa Yadnya (pengendalian diri).
Pilihan menggunakan para atau apara bhakti tergantung dari tingkat inteligensi dan kesadaran rohani masing-masing. Yang ditemukan di masyarakat Hindu Indonesia dewasa ini adalah mix para dan apara bhakti, namun bobotnya berbeda. Umat Hindu di Bali banyak menggunakan apara  bhakti, sedangkan umat Hindu diluar Bali banyak menggunakan para bhakti. Kenapa demikian ? Apakah itu berarti umat Hindu di Bali inteligensi dan kesadaran rohaninya kurang ? Tidak selalu demikian. Ada umat Hindu di Bali yang inteligensi dan kesadaran rohaninya tinggi tetapi dibelenggu oleh tradisi beragama yang monoton dan feodalistis, sehingga menampakkan diri sebagai apara bhakti. Sebaliknya umat Hindu diluar Bali lebih moderat, demokrat, rasional dan reformis, sehingga memudahkan mereka mencapai para bhakti. Mengupayakan umat Hindu di Bali menjadi sebagian besar para bhakta tidaklah semudah membalikkan telapak tangan karena bottle-neck yang menghadang ya itu tadi: tradisi beragama dan feodalisme. Itulah sedikit ulasan kasus tentang para dan apara bhakti

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar