Selasa, 08 November 2011

MANTRA DAN YANTRA

Dalam Studi singkatnya tentang Pancayajna di India dan Bali (Pancayajnas in India and Bali, 1975, Dr. C. hooykaas) telah membuat studi perbandingan tentang dewayajna, Pitrayajna, manusayajna dan bhutayajna antara India dan Bali dengan mengambil bahan sumber tertulis dan tradisi yang berlangsung. Hoykaas melihat esensi pelaksanaan yajna tersebut tetap sama.
Yajna berasal dari bahasa Sansekerta, terbentuk dan akar kata yaj berarti memuja, menyembah. Pemujaan atau penyembahan tersebut ditumbuhkan untuk mencangkup aspek-aspek kehidupan yang beragam serta aksistensi kehidupan sebagai suatu kesatuan. Secara sepintas yajna terlihat sebagai suatu ritualistik, tetapi sesungguhnya di dalamnya terkandung aspek sosiologis, kosmologis dan religio-filosofis.
Lewat Gita dapat kita ketahui ada Yajna-Purusa, mahluk tertinggi yang bertindak sebagai penguasa yajna. Awalnya Prajapati-Brahma, Tuhan sebagai pencipta diidentifikasikan sebagai penguasa yajna. Namun kemudian Beliau yang meresapi semuanya menjadi yajneswara, yajna bhrit, yajna bhawana, yajna bhoktra, dan sebagainya. Dialah yang menenima semua kewajiban dalam semua yadjna di seluruh jagat (Gita, V. 29; IX.23). Maka kemudian timbul kesadaran. bahwa manusia harus melaksanakan yajna, karena yajna-cakra adalah hukum kesemestaan yang tak dapat dihindari oleh manusia. Tanpa melaksanakan yajna, manusia hidup sia-sia.
Selanjutnya untuk masyarakat luas dirumuskan adanya panca mahayajna terdiri atas dewayajna, pitrayajna, resiyajna, manusa yajna dan bhuta yajna. Pancamahayajna tersebut sesungguh-nya adalah sebuah kesatuan, muncul dari pemikiran tentang kesatuan semesta. Alam semesta adalah satu kesatuan dan saling bergantung satu sama lain. Tidak ada benda mengada sebagai eksistensi yang terpisah dari yang lain. Setiap orang bergantung pada yang lain atas kelahiran fisik, eksistensi, pengetahuan dan kebudayaan dan keperluan lainnya. Setiap orang dihubungkan dengan Realitas Tertinggi yang satu dan sama. Tak ubahnya dengan gelombang-gelombang ombak dengan samudera. Jadi, setiap orang pada dasarnya berhutang budi pada yang lainnya dalam cara yang berbeda. Adalah wajib bagi siapa saja untuk membayar utang (Rna) kepada yang lain. Hutang-hutang tersebut adalah dewarna, pitrarna, resirna, manusarna dan bhutarna. Panca Rna inilah melahirkan pancamaha yajna.
Begitu sentralnya kedudukan yajna dalam agama Hindu, sehingga banyak hal berhubungan dengan yajna seperti tapa, japa, mantra, mudra, yatra, acara, upakara, diwasa dan yang lainnya. Demikian pula dengan yoga, dan sang muput yajna sebagai seorang yogi. Hubungan satu dengan yang lainnya diuraikan secara ringkas berikut ini.
YAJNA: Mantra dan Yantra
Dr. .R. Cons dalam disertsinya secara luas membahas kitab Bhuwanakosa, yang disebutkan sebagai tulisan teologi yang paling tua ditemui dalam tradisi jaya Kuna, memuat sloka-sloka Sansekerta, yang kemudian disimpan dan dipelajari oleh para pandita di Bali. Goris juga menjelaskan bahwa sejauh ini tulisan-tulisan teologi yang muncul kemudian, mengambil bahannya dan karya tertua bersifat Siwa-siddhanta tersebut.
Menurut Bhuwanakosa uraian penghargaan dan yang terendah sampai yang tertinggi adalah: arcana, mudra, mantra, kutamantra, dan pranawa. Dalam pelaksanaan yajna semuanya merupakan sebuah kesatuan.
Yang dimaksud arcana di sini adalah berbagai bentuk simbol-simbol keagamaan, termasuk upakara (banten) dan juga yantra. Yantra umumnya berarti alat untuk melakukan pemusatan pikiran, dapat berbentuk pratima atau mandala. Yantra dapat berbentuk diagram, dilukis atau dipahatkan di atas logam, kertas atau benda-benda lain yang disucikan. Yantra secara simbolik adalah tempat mensthanakan Tuhan Yang Maha Kuasa. Bagi seorang pemuja Saraswati aksara atau lontar/kitab adalah yantra. Di tempat lain daksina (banten daksina), atau catur (banten catur) adalah yantra. maka Yantra adalah alat sejauh itu berguna sebagai obyek untuk memusatkan pikiran, tetapi sekaligus juga dapat menerima turuninya Dewa yang dipuja.
Mudra berasal dari akar kata mud berarti “membuat senang”. Mudra diyakini membuat Dewata yang dipuja senang. Terdapat 108 mudra, 55 di antaranya yang biasa digunakan. Mudra yang dimaksudkan disini adalah sikap-sikap ketika memuja, dilakukan dengan posisi tangan dan jari-jari tertentu, termasuk sikap badan seperti dalam latihan yoga. Matsya mudra misalnya dilakukan ketika mempersembahkan Arghya, yaitu dengan meletakkan tangan kanan di punggung tangan kiri lalu direntangkan, seperti sirip kedua ibu jari, dan sungu yang berisi air diandaikan samudera lengkap dengan ikan-ikan di dalamnya. Di samping untuk menyenangkan Dewata, mudra juga diyakini dapat memberikan siddhi, dan pelaksanaannya dapat memberikan keuntungan bagi tubuh seperti kestabilan, kekuatan dan penyembuhan penyakit. Mudra adalah hal yang sangat penting bagi para sulinggih di Bali dalam pelaksanaan yajna (Kat Angelo, Mudra’s on Bali, 1992).
Setelah mudra kita masuk ke dalam hal yang sangat penting yaitu mantra, kuta-mantra dan pranawa mantra. Mantra yang disusun dengan aksara-aksara tertentu, diatur sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu bentuk bunyi, sedangkan aksara-aksara itu sebagai perlambang dari bunyi tersebut. Untuk menghasilkan pengaruh yang dikehendaki, mantra harus disuarakan dengan cara yang tepat, sesuai dengan swara (ritme) dan warna (bunyi). Mantra itu mungkin jelas dan mungkin tidak jelas artinya. Kuta-mantra atau wija-mantra, misalnya Hrang, Hring Sah, tidak mempunyai arti dalam bahasa sehari-hari. Tetapi mereka yang sudah menerima inisiasi mantra mengetahui bahwa artinya terkandung dalam perwujudarmya itu sendiri (swa-rupa) yang adalah perwujudan Dewata yang dipuja. Untuk memahami hal ini terlebih dahulu kita harus memahami proses lahirnya mantra atau wijamantra itu sendiri.
Seperti halnya antariksa gelombang bunyi dihasilkan oleh gerakan-gerakan udara (wayu), karena itu di dalam rongga tubuh yang menyelubungi jiwa gelombang bunyi dihasilkan oleh gerakan-gerakan pranawayu dan proses menarik dan mengelurkan nafas. Shabda pertama kali muncul di muladhara-cakra dalam tubuh. Bunyi yang teramat lembut yang pertama kali muncul di dalam Muladhara disebut para, berkurang kelembutannya ketika sudah sampai di sanubari yang dikenal dengan pasyanti. Ketika mencapai buddhi, bunyi itu sudah menjadi lebih kasar lagi disebut Madhyama. Akhirnya sampai kepada wujudnya yang kasar, keluar melalui mulut sebagai waikhari. Substansi semua mantra adalah Cit, dengan perwujudan luarnya sebagai bunyi, aksara, kata-kata. Maka aksara itu sesungguhnya adalah yantra dan aksara atau Brahman yang tak termusnahkan.
Beberapa proses harus dilakukan sebelum mantra itu dapat diucapkan, seperti penyucian mulut (mukha soddhana), penyucian lidah (jihwasoddhana), penyucian terhadap mantra itu sendiri (ashaucabhanga) dan lain-lain. Yang intinya segalanya dalam suasana penuh kesucian.
Pranawa mantra adalah OM, yang merupakan intisari dari semua mantra. Dan OM inilah merupakan intisari bentuk yajna atau pemujaan. Om disthanakan oleh para sadhaka di dalam sari alam semesta dalam wujud ghreta (susu), taila (biji-bijian, benih) dan madhu (madu). Bentuk-bentuk upakara yang lain yang bahannya diambil dari isi jagat (isin pasih, isin tukad, isin danu, isin alas dsb) yang kemudian dijadikan yantra, dimaksudkan untuk dihidupkan, ditegakkan dan dirahayukan kembali (winangun urip, panyegjeg jagat, bhuta hita, jagathita, sarwaprani hita).
YAJNYA : YOGA DAN YOGI
Uraian singkat di atas telah menyiratkan bahwa pelaksanaan yajna atau pemujaan sesungguhnya adalah proses yoga. Mantra dan yantra misalnya adalah jalan bagi seseorang yogi untuk mencapai tujuan yoganya.
Menurut ajaran yoga tantris, sifat imanensi yang mutlak dalam semesta alarn dan dalam diri manusia sebagai bagian dan semesta alam, dapat dibedakan menjadi tiga bentuk: niskala (immaterial), Sakala-niskala (materialimmaterial) dan sakala (material) Niskala dipakai dengan bentuknya sebagai hakikat terdalam segala sesuatu. Dalam kaitannya dengan yoga, niskala berarti lubuk hati seseorang, jiwanya yang paling dalam. Yang mutlak bersifat sekala-niskala bila mulai terwujud dalam hati seorang yogi, materialisasinya mencapai puncaknya, bila dalam keadaan sekala yang mutlak menjadi objek pencerepan (persepsi) panca indera, misalnya bersemayam atau bersthana (supratistham pinratistha) di dalam sebuah benda yang disucikan (yantra). Dengan mengadakan konsentrasi terus-menerus seorang yogi seolah-olah menghimbau yang Mutlak untuk meninggalkan keadaan niskala-nya sehingga menampakkan diri di hadapan mata batin dalam keadaan sakala-niskala sambil bersemanyam di hati seorang yogi. Sang yogi lalu menarik Yang Mutlak ke atas, meninggalkan tubuhnya lewat Siwadwara (sahasrapadma : bunga padma berkelopak seribu), yang berada di dalam kepala, lalu menghimbau Yang Mutlak bersthana di suatu benda atau tempat suci. Obyek ini lalu menjadi sarana untuk mengadakan kontak dengan Yang Mutlak dalam keadaan yang Skala, yang telah disthanakan di dalam Padmasana, sanggartawang dan lain-lain.
Praktek yoga seperti inilah yang dilaksanakan oleh para seulinggih, tepatnya para sadhaka. Maka seorang sadhaka adalah beliau yang, melaksanakan sadhana. Di Bali sasana yang dipakai landasan disebut juga dalam Wrehaspatitattwa, Tattwa jnana, Jnan sidhanta dan lain. Antara lain diuraikan ajaran asthanggayoga terdiri atas Yama, Nyama, Asana Pranayama, Pratihara, Dharma, Dhyana, dan Samadhi.
Jelasnya seorang Sadhaka yang biasanya memimpin yajna adalah seorang Wrati, beliau yang melaksanakan Wrata (brata). Brata banyak sekali jenisnya, diantaranya yang penting misalnya ialah yang dilakukan pada han Siwaratri, terdiri atas Upawasa, Mona dan Jagra. Brata diyakini akan menghasilkan punya (kekuatan positip, dan dapat melenyapkan papa (kesengsaraan).
Dengan demikian aktifitas yajna sesungguhnya adalah praktik yoga. Yajna dilaksanakan pada hari suci (subha diwasa) misalnya pada hari Tilem, Purnama; dilaksanakan pada suatu tempat terpilih (tempat suci). Maka aktifitas yajna adalah sebuah totalitas kesemestaan.
SAT CIT ANANDA
Yajna merupakn basis kehidupan yang antara lain menjadi sumber inspirasi dan kreatifitas umat Hindu. Maka yajna memberi kekuatan hidup; pikiran-pikiran segar dan suci senantiasa diperlukan dalam setiap kehidupan, pada setiap zaman.
Pelaksanäan yajna ditentukan juga oleh ruang dan waktu (desa-kala) lalu menyadarkan manusia (patra) tentang posisinya di alam semesta alam raya ini, serta hakikat dirinya yang merupakan putra Sang Abadi (Amretsyah Putrah). Manusia dengan demikian membangun sifat tyaga (ikhlas) dalam diri, melakukan pengorbanan bagi kerahayuan masyarakat luas, dan untuk mencapai tujuan kehidupan yaitu Sat Cit Anandam.
Yadnya adalah jalan kesucian, karena dengan melaksanakan yajna sesungguhnya manusia menyucikan dirinya, dan menyadari bahwa hakikat dirinya adalah suci. Oleh karena itu tapa, yajna, kirti dan yoga yang merupakan jalan kesucian mendapat tempat yang sangat mulia dalam agama Hindu. [WHD No. 516 Desember 2009].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar