Jumat, 23 Desember 2011

DOA

Doa adalah ungkapan perasaan seseorang yang pada umumya di tujukan kepada Tuhan baik yang diucapkan maupun hanya dalam hati. Doa yang diucapkan maupun tidak diucapkan semua dibenarkan dalam Hindu. Hal ini tergantung pada situasi dan kondisi. Pujalah Tuhan dalam hati itu terdapat dalam Regveda : 8.44.15. Sesuai dengan Hukum Getaran bahwa setiap benda adalah bergetar maka doa yang diucapkan dalam hati akan menggetarkan microkosmos / alam kecil kita. Sedangkan doa yang diucapkan secara keras dan berulang-ulang maka akan menggetarkan makrocosmos / alam besar beserta benda-benda dan mahluk hidup yang ada disekitarnya.

Doa yang tertinggi adalah doa yang disertai dengan niat. Misalnya kita lagi berdoa di pura namun pikiran melayang-layang entah kemana akan sulit hal itu disebut berdoa. Kualitas doa tidak diukur seberapa banyak ia bisa menghapal ayat-ayat suci namun melainkan ketulusan dan niat yang suci dalam memujanya jauh lebih penting dari segalanya. Jika kulitas doa hanya diukur bagi yang hanya bisa membaca mantra, maka hanya doa para pemuka agama saja yang akan dikabulkan.

Tidaklah mengada-ada jika saya membuat tulisan seperti ini, sebagai perbandingan di tempat saya. Di tempat saya banyak para pemangku hanya sekedar menghapal saja mantra-mantra yang diujarkan dalam ritual-ritual tanpa mengerti artinya. Kalau pemangkunya saja tak paham, lalu bagaimana dengan yang lainnya? Saya memisahkan pemahaman mantra ini dan sudut bhakti, sebab kalau masalah bhakti para pemangku ini tak diragukan lagi. Bahwa bhakti seorang pemangku ditujukan untuk semua umat. Dan saya menganggap seorang pemuka agamalah yang memang benar-benar mengajegkan Hindu dan Bali pada Khususnya.

Seperti halnya murid-murid di sekolah hapal betul mantra Tri Sandya namun hanya sedikit yang mengerti arti dari mantra tersebut.
Ada tujuh syarat yang harus dipenuhi agar suatu yadnya dapat dikategorikan “satwika yadnya” yaitu: sradha, lascarya, sastra, daksina, mantra, gita, annasewa dan nasmita. Dari tujuh syarat itu, mantralah yang merupakan unsur yang termasuk penting. Mengapa demikian? Tidak lain karena mantra diyakini memiliki kekuatan suci. Tentu jika diucapkan dengan aturan yang tepat.

Sangat banyak sekali Makna dari mantra itu sendiri. Ada beberapa makna yang bisa saya uraikan di bawah ini :
• Mantra adalah satu kata atau kumpulan kata yang memiliki kekuatan dan yang didengar oleh para Rsi.
• Mantra adalah kata yang membawa seseorang yang dengan tulus mengucapkannya, menyebrangi lautan kelahiran kembali.
• Mantra adalah rumus akultis untuk mengusir dan berbagai gangguan atau jalan untuk memenuhi keinginan duniawi, tergantung dan motif untuk apa mantra itu diucapkan.
• Mantra adalah jampi yang kalau diucapkan dengan tekanan yang benar akan memberikan hasil melalui kekuatan alam, tergantung apa yang dipuja.
• Mantra adalah kekuatan kata yang bisa dipakai untuk realisasi rohani atau keinginan keduniawian; dia bisa dipakai untuk kesejahteraan dan juga bisa dipakai untuk kehancuran. Dia memiliki keluatan seperti tenaga atom. Dia adalah satu kekuatan yang bertindak sesuai dengan kasih sayang seseorang yang mempergunakannya.
Dari banyak definisi itu, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa mantra bisa “bertuah” jika diucapkan sesuai aturan dan sangat mungkin akan menimbulkan bencana jika diucapkan tidak sesuai aturannya. Terutama mantra yang bersifat rahasia atau istilahnya “pingit” maka penggunaanya tidaklah sembarangan. Harus orang-orang yang benar-benar memiliki syarat tertentu untuk mengucapkannya. Jika salah pengucapan pada mantra-mantra yang bersifat “pingit” maka akan mengakibatkan hal yang buruk.

Sebuah contoh adalah ketika adik kandung Rahwana yang bernama Kumbakarna memohon anugrah kepada Dewa Brahma agar dikaruniai kesenangan selalu (suka sada) tetapi karena lidahnya salah ucap menjadi supta sada) maka Dewa Brahma menganugrahinya sebagai mahluk yang selalu tidur karena “supta sada” artinya selalu tidur. Ini adalah contoh kecil saja.

Namun tidak usah merasa takut akan kesalahan pengucapan untuk mantra-mantra yang masih bersifat umum. Jika ketakutan itu terjadi maka akan sedikit yang berani untuk memimpin doa dalam persembahyangan. 
 
sumber : klik disini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar