Rabu, 21 Desember 2011

Membaca Lontar dan Mengucapkan Mantram

QUESTION:
Apakah tulisan dalam lontar-lontar itu yang dinamakan mantra, dan benarkah tidak sembarang orang boleh membaca lontar dan mengucapkan mantram?
Bagaimana halnya jika seseorang tuli bisu apakah dia tidak dapat melakukan Puja Trisandya? Kaum muda saat ini sedikit sekali yang dapat mengerti bahasa Sanskerta, apakah itu berarti kita belum menekuni agama Hindu dengan baik?
ANSWER:
Naskah rontal dikelompokkan menjadi enam, yaitu: Weda, Agama, Wariga, Itihasa, Babad, dan Tantri.
Weda dibedakan menjadi tiga: Mantra, Brahmana, dan Aranyaka. Ketiganya dikenal sebagai Kitab Sruti atau Wahyu.
Mantra tidak boleh diubah isinya karena Mantra itu adalah wahyu dan rahasia (Tuhan) sifatnya. Menafsirkan Mantra harus dilakukan oleh orang-orang suci yang ahli di bidangnya, agar tidak menyesatkan masyarakat.
Untuk menghindari salah pengertian maka Mantra harus diucapkan dengan benar dalam bahasa aslinya, yaitu Sanskerta.
Mantram pokok yang populer di masyarakat adalah Gayatri Mantram yang kemudian berkembang menjadi Puja Trisandya. Dengan sedikit ketekunan Mantram ini dapat dihafalkan dan penafsirannya pun sudah diterbitkan oleh PHDI.
Bagi orang bisu asal bisa baca tulis (sebagai alternatif lain berkomunikasi) dapat menghafal Puja Trisandya dan mengucapkannya dalam hati.
Bila tidak paham Bahasa Sanskerta jangan berkecil hati; jalan menuju Ida Sanghyang Widhi Wasa ada empat, yaitu: Bhakti Marga, Karma Marga, Jnana Marga, dan Yoga Marga, di mana keempatnya dapat dikombinasikan dan mana yang dominan tergantung dari kemampuan pribadi masing-masing.
Mamantra artinya mengucapkan/ membaca Mantra. Selanjutnya Mantra/ Weda terbagi dalam Catur Weda, yaitu: Rg Weda, Yayur Weda, Sama Weda, dan Atharwa Weda.
Mantra boleh diucapkan oleh siapa saja asalkan cara mengucapkannya benar, untuk tujuan suci, dalam situasi sakral, dan keluar dari lubuk hati kesucian. Maweda sama dengan mamantra.
Mapuja dilakukan oleh sulinggih Dwijati ketika “Nyurya Sewana” dan “muput” upacara, di mana bait-baitnya diambil dari Weda dan beberapa puja dalam bahasa Kawi yang sesuai dengan tujuan pemujaan.
Jero Mangku (Ekajati) yang senior banyak yang mampu mapuja tetapi wewenangnya terbatas karena beliau belum “Ngelinggihang Puja”.
Beliau ada yang masaha, yaitu mengucapkan puji, doa, permohonan ke hadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam bahasa yang dikuasai (Bali, Indonesia,); Sang Wiku tidak boleh masaha karena sasana kawikon, sedangkan yang lain boleh.
Sekian dan semoga anda puas dengan penjelasan di atas.

sumber : klik disini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar