Rabu, 21 Desember 2011

QUESTION:
Saya belum mengerti mengenai “Mantram sesontengan” bagi para walaka, dan ada beberapa pertanyaan lagi sebagai berikut:
  1. Apakah mantram sesontengan itu
  2. Ketika bersembahyang ada yang tangannya menjepit bunga, ada yang menjepit dupa; yang manakah yang benar dan apa filsafatnya.
  3. Sikap tangan ketika bersembahyang, ada yang tinggi melewati kepala, ada yang di dahi di tengah-tengah kening; manakah yang benar.
  4. Pada saat manakah kita ngayab dengan saab. Jika tidak ada saab apakah boleh dengan kembang yang dijepit di tangan. Apa pula ucapan mantram ketika ngayab dan apa maknanya.
  5. Ketika sembahyang sehari-hari, setelah Puja Trisandya saya melanjutkan dengan satu kali puja saja, yaitu ucapan terima kasih. Bolehkah demikian?
  6. Apakah mantram untuk mohon tirta? (maksudnya dari air biasa menjadi tirta)
Terima kasih atas jawaban yang diberikan. Bila saya ingin mendalami ajaran-ajaran Agama kita, bolehkah saya datang ke Geria Ratu Pandita dan kapankah waktunya?
ANSWER:
1. Sesontengan adalah ucapan penganteb banten dengan kata-kata biasa sehari-hari yang dilakukan oleh para walaka yang belum mempelajari puja ataupun mantra.
Tegasnya sesontengan bukan mantra. Mantra adalah Weda, yaitu wahyu Hyang Widhi yang tidak dapat diubah. Menafsirkan Mantra harus dilakukan oleh orang-orang suci yang ahli di bidang itu agar tidak menyesatkan masyarakat.
Untuk menghindari salah pemahaman, mantra harus diucapkan dalam bahasa aslinya, yaitu Sanskerta, dengan irama tertentu. Mantra utama yang populer di masyarakat adalah Puja Trisandya bait pertama yang dikenal sebagai Mantram Gayatri.
Mantra boleh diucapkan oleh siapa saja asalkan cara mengucapkannya benar, untuk tujuan suci, dalam situasi sakral, dan keluar dari lubuk hati kesucian. Mengucapkan mantra juga dapat disebut sebagai Memantra atau Maweda.
Para Pandita/ Pedanda (atau umumnya disebut Wiku) tidak dapat dikatakan memantra atau maweda karena Weda tidak diucapkan secara utuh baik pada waktu Nyurya Sewana maupun ketika muput karya.
Apa yang diucapkan sudah bercampur antara mantra dengan doa/ rapal dalam bahasa Kawi. Oleh karena itu beliau disebut MAPUJA atau MAMEOS.
Selain itu perlu diketahui bahwa Trisandya bukanlah mantram, tetapi Puja karena tidak seluruh baitnya Weda (Catur Weda).
Mudah-mudahan dengan penjelasan ini anda dapat membedakan antara: SONTENG, PUJA, DAN MANTRA.
2. Sarana untuk sembahyang adalah: dupa/ asep sebagai simbol Brahma, air sebagai simbol Wisnu, dan bunga sebagai simbol Siwa. Ketiganya harus ada.
Air digunakan untuk membasuh tangan, berkumur, dan membersihkan muka sebelum sembahyang, dupa atau asep diletakkan di hadapan, dan bunga dijepit di jari tengah di kedua telapak tangan.
3. Sikap tangan yang benar adalah mencakupkan kedua telapak tangan dengan jari-jari rapat dan kedua ibu jari ada di “tengahing lelata”, yaitu diantara kedua alis, karena di tempat itu disebut trinetra, yaitu “mata ketiga Siwa”.
Siwa yang mempunyai trinetra dipuja oleh penganut Hindu sekta Siwa Sidanta (Hindu yang ada di Bali/ Indonesia kini).
4. “NGAYAB” boleh dengan saab atau dengan bunga yang dijepitkan di jari tangan kanan. Maknanya adalah ngaturang persembahan kepada Hyang Widhi/ Bethara, Dewa, Bhuta, Pitra, dan Lina.
Untuk manusia disebut “NATAB”. Puja yang diucapkan ketika ngayab tergantung dari jenis ayaban (banten) yang dihaturkan.
5. Sebaiknya sembahyanglah dengan lengkap, yaitu Puja Trisandya dan Kramaning sembah.
6. Ada dua kelompok besar puja untuk tirta, yaitu untuk tirta dasar dan untuk tirta wangsuh pada.
Yang dimaksud dengan tirta dasar adalah tirta yang dibuat oleh Pandita dan Jero Mangku berdasar tata cara “NGARGA TIRTA”. Tirta ini digunakan untuk keperluan: pelukatan. pebersihan, caru, beakala, dan lain-lain.
Tirta wangsuh pada adalah tirta yang dimohonkan untuk berkat bagi manusia dari Hyang Widhi, Dewa, dan Bethara. “Wangsuh” artinya air cucian; “pada” artinya kaki.
Tirta arti umumnya adalah air yang sudah disucikan dan diberkati oleh kekuatan Hyang Widhi yang dipuja menurut tata cara tertentu, tirta mana diyakini membawa perasaan damai, aman, tentram, terlindungi, dan kesucian.
Cara membuat tirta agak rumit dan perlu praktik langsung, jadi tidak dapat dijelaskan secara tertulis di ruangan ini. Bila anda berminat, tidak perlu ragu-ragu, silahkan datang ke Geria setiap saat.
Pandita siap melayani setiap orang kapan saja untuk ber-dharma wacana dan ber-dharma tula.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar